Trump Ngotot Perpanjang Serangan AS ke Iran 4 Pekan, Targetkan Garda Revolusi IRGC

JurnalLugas.Com — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan akan melanjutkan operasi militer terhadap Iran setidaknya selama tiga hingga empat pekan ke depan sebelum menentukan langkah lanjutan.

Informasi tersebut diungkap oleh sumber yang dikutip pada Kamis, 12 Maret 2026. Operasi militer ini disebut sebagai fase lanjutan dari strategi Washington untuk meningkatkan tekanan terhadap struktur militer dan politik di Teheran.

Bacaan Lainnya

Target Utama: Garda Revolusi Iran

Pada tahap berikutnya, operasi militer diperkirakan akan difokuskan pada kampanye berkelanjutan terhadap Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). Langkah ini bertujuan melemahkan kekuatan militer elite Iran tersebut hingga membuka peluang terjadinya tekanan internal di dalam negeri.

Sumber yang dikutip media tersebut menyebutkan bahwa strategi Washington tidak hanya mengandalkan serangan militer, tetapi juga mencoba memicu dinamika politik dari dalam negeri Iran.

Baca Juga  AS Ketar-Ketir Hadapi Drone Iran, AS Dianggap Tertinggal Tak Siap Perang

Menurutnya, ada kemungkinan munculnya gejolak domestik jika tekanan militer terus meningkat.

“Upaya akan diarahkan untuk memicu kekuatan dari dalam Iran. Bukan tidak mungkin sebuah kota jatuh atau unit militer melakukan pembangkangan,” ujar sumber tersebut seperti dikutip laporan media internasional.

Serangan AS–Israel Picu Eskalasi

Ketegangan antara Washington dan Teheran meningkat sejak 28 Februari lalu ketika Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target strategis di wilayah Iran.

Serangan tersebut menyebabkan kerusakan pada beberapa fasilitas serta dilaporkan menimbulkan korban sipil. Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan terhadap wilayah Israel dan fasilitas militer Amerika Serikat di sejumlah titik di Timur Tengah.

Pada awalnya, Washington dan Tel Aviv menyatakan operasi tersebut dilakukan untuk mencegah ancaman yang berasal dari program nuklir Iran. Namun dalam perkembangan selanjutnya, pernyataan dari pejabat kedua negara menunjukkan bahwa tujuan operasi juga berkaitan dengan perubahan struktur kekuasaan di Teheran.

Rusia Kecam Operasi Militer

Reaksi keras datang dari Moskow. Presiden Rusia, Vladimir Putin, menilai tindakan yang menargetkan pemimpin tertinggi Iran sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional.

Baca Juga  Perang Dunia Pecah? Israel Bombardir Lebanon Usai Roket Hizbullah Hantam Wilayah Utara

Ia menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk pelanggaran yang “sinis” terhadap prinsip kedaulatan negara.

Sementara itu, Ministry of Foreign Affairs of Russia juga mengeluarkan pernyataan resmi yang mengecam operasi militer gabungan AS dan Israel.

Dalam pernyataannya, kementerian tersebut menyerukan agar semua pihak segera menurunkan eskalasi konflik serta menghentikan aksi permusuhan yang berpotensi memperluas perang di kawasan Timur Tengah.

Pengamat geopolitik menilai, jika operasi militer terus berlangsung dalam beberapa pekan ke depan, konflik antara Iran dan blok Barat berisiko berkembang menjadi krisis regional yang lebih luas.

Baca berita internasional terbaru lainnya di JurnalLugas.Com.

(WN)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait