Trump Tunda Kunjungan ke Beijing, AS Fokus Operasi Militer dan Krisis Selat Hormuz

JurnalLugas.Com — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memutuskan menunda rencana kunjungan resminya ke China yang semula dijadwalkan berlangsung pada akhir Maret hingga awal April 2026. Penundaan itu dilakukan karena pemerintahannya tengah fokus pada konflik yang berkembang dengan Iran.

Trump menyampaikan bahwa dirinya sebenarnya sangat ingin bertemu dengan Presiden China, Xi Jinping. Namun situasi keamanan global membuatnya harus tetap berada di Washington untuk memantau perkembangan perang.

Bacaan Lainnya

“Saya sangat ingin pergi ke China, tetapi karena perang saya harus berada di sini. Jadi kami meminta agar kunjungan itu ditunda sekitar satu bulan,” ujar Trump dalam pernyataannya kepada wartawan.

Meski agenda pertemuan tertunda, Trump menegaskan hubungan pribadinya dengan Xi tetap berjalan baik dan ia tetap menantikan kesempatan bertemu langsung dengan pemimpin China tersebut.

Gedung Putih: Prioritas Trump Saat Ini Operasi Militer

Sebelumnya, juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menjelaskan bahwa perubahan jadwal kunjungan dilakukan karena presiden harus memprioritaskan operasi militer yang sedang berlangsung.

Menurutnya, sebagai panglima tertinggi militer Amerika Serikat, Trump perlu memusatkan perhatian penuh pada operasi yang disebut Epic Fury, yang melibatkan koordinasi antara Amerika Serikat dan Israel dalam menghadapi Iran.

Baca Juga  AS Ngotot Caplok Greenland JD Vance Tak Peduli Negara Eropa

Leavitt mengatakan pemerintah akan mengumumkan kembali jadwal baru kunjungan tersebut setelah situasi dinilai lebih stabil.

AS Pilih Tetap di Washington Koordinasikan Perang

Pandangan serupa disampaikan oleh Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent. Ia menilai perjalanan luar negeri dalam kondisi konflik militer yang memanas bukan pilihan terbaik bagi presiden.

Menurutnya, Trump ingin memastikan koordinasi strategi perang berjalan efektif dari Washington.

“Dalam kondisi seperti ini, tetap berada di pusat pengambilan keputusan menjadi langkah yang lebih tepat,” kata Bessent secara singkat.

Tekanan AS untuk Membuka Selat Hormuz

Penundaan kunjungan ini juga berkaitan dengan meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk Persia, terutama setelah Iran memblokade jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.

Selat tersebut merupakan jalur penting bagi distribusi energi global karena sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati kawasan ini setiap harinya.

Trump bahkan menegaskan bahwa ia bisa menunda pertemuannya dengan Xi jika China tidak membantu Amerika Serikat membuka kembali jalur pelayaran tersebut dalam waktu dekat.

Pemerintah AS juga terus mendorong sejumlah negara yang bergantung pada minyak Timur Tengah, termasuk Jepang dan Korea Selatan, untuk mengirim kapal perang guna membantu mengamankan jalur pelayaran internasional itu.

Baca Juga  Trump Klaim Sekutu AS akan Kirim Puluhan Kapal Perang ke Selat Hormuz

Dalam pertemuan di Gedung Putih, Trump mengklaim beberapa negara telah bersedia membantu operasi pengamanan. Namun ia tidak menyebut secara rinci negara mana saja yang sudah menyatakan dukungan.

Pertemuan Ekonomi AS–China Tetap Berlanjut

Di tengah ketegangan geopolitik tersebut, komunikasi antara Amerika Serikat dan China tetap berjalan di jalur ekonomi.

Pejabat ekonomi kedua negara diketahui menggelar pertemuan selama dua hari di Paris untuk membahas kerja sama perdagangan dan stabilitas ekonomi global. Pertemuan itu menghasilkan kesepakatan untuk terus menjaga komunikasi dan koordinasi yang erat.

Namun demikian, dengan konflik yang sudah memasuki pekan ketiga tanpa tanda-tanda mereda, jadwal kunjungan Trump ke Beijing masih belum dapat dipastikan.

Situasi ini membuat agenda diplomasi tingkat tinggi antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia tersebut berada dalam ketidakpastian.

Baca berita internasional lainnya di https://JurnalLugas.com.

(HD)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait