JurnalLugas.Com — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Donald Trump melontarkan ancaman serius terhadap Iran terkait akses strategis di Selat Hormuz. Pemerintah Iran pun merespons tegas dengan peringatan balasan jika fasilitas vital mereka menjadi target serangan.
Juru Bicara Markas Pusat Khatam Al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, menegaskan bahwa Iran tidak akan tinggal diam apabila infrastruktur energi nasional diserang oleh pihak luar. Ia menyebut seluruh fasilitas vital milik Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan berpotensi menjadi sasaran.
Dalam pernyataan singkatnya, Zolfaghari menekankan bahwa serangan terhadap sektor energi Iran akan dibalas secara setara. “Jika fasilitas bahan bakar dan energi kami menjadi target, maka infrastruktur energi serta sistem penting milik musuh di kawasan juga akan kami sasar,” ujarnya.
Sebelumnya, Trump memberikan ultimatum keras kepada Iran. Ia menyatakan bahwa jika Teheran tidak membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz dalam waktu 48 jam, maka Amerika Serikat akan melancarkan serangan terhadap pembangkit listrik Iran, dimulai dari yang terbesar.
Ancaman tersebut memperkeruh situasi yang sudah memanas sejak akhir Februari lalu. Pada 28 Februari, Amerika Serikat bersama Israel dilaporkan melancarkan serangan terhadap sejumlah titik strategis di Iran, termasuk di ibu kota Teheran. Serangan itu menyebabkan kerusakan signifikan serta menimbulkan korban di kalangan warga sipil.
Sebagai respons, Iran meluncurkan serangan balasan yang menyasar wilayah Israel dan beberapa target militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Langkah ini disebut sebagai bentuk pertahanan diri atas agresi yang diterima.
Di sisi lain, Washington dan Tel Aviv awalnya mengklaim bahwa serangan tersebut merupakan langkah pencegahan terhadap potensi ancaman dari program nuklir Iran. Namun dalam perkembangan terbaru, kedua negara itu secara terbuka menyatakan keinginan untuk melihat perubahan kekuasaan di Iran, yang semakin meningkatkan tensi konflik.
Situasi ini memicu kekhawatiran global, terutama terkait stabilitas pasokan energi dunia mengingat Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusi minyak internasional.
Pengamat menilai, jika eskalasi terus berlanjut, dampaknya tidak hanya dirasakan di kawasan Timur Tengah, tetapi juga berpotensi mengguncang ekonomi global secara luas.
Baca selengkapnya di: https://JurnalLugas.Com
(SF)






