JurnalLugas.Com – Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali meningkat setelah otoritas Israel mengonfirmasi jatuhnya pecahan rudal Iran di sejumlah wilayah strategis, termasuk Tel Aviv, Bnei Brak, dan Petah Tikva. Sedikitnya 10 lokasi dilaporkan mengalami kerusakan, mulai dari bangunan hingga kendaraan yang terbakar.
Serangan ini menandai babak baru dalam intensitas balasan militer Iran yang dinilai semakin agresif dan konsisten. Sistem pertahanan udara andalan Israel, Iron Dome, dilaporkan kembali gagal mengintersepsi sejumlah rudal yang masuk ke wilayah pusat permukiman.
Sejumlah sumber keamanan menyebutkan, serangan berlangsung tanpa jeda, membuat kapasitas pertahanan Israel mengalami tekanan signifikan. “Volume dan frekuensi serangan membuat sistem kewalahan,” ujar seorang analis militer yang enggan disebutkan namanya.
Di lapangan, tim pemadam kebakaran Israel terlihat berjibaku memadamkan api yang melahap kendaraan serta bangunan sipil di beberapa titik. Petah Tikva menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak, diduga karena menjadi target strategis dalam operasi balasan tersebut.
Operasi “Janji Sejati 4” Masuki Gelombang ke-88
Sebelumnya, Angkatan Bersenjata Iran mengumumkan peluncuran gelombang ke-88 dalam operasi militer bertajuk Janji Sejati 4. Operasi ini menggunakan sandi “Ya Fatimah Al-Zahra” dan disebut sebagai bentuk penghormatan terhadap korban dari kelompok perlawanan di kawasan.
Dalam operasi tersebut, unit udara dari Korps Garda Revolusi Islam meluncurkan berbagai jenis rudal jarak menengah hingga jauh, termasuk Emad, Khorramshahr 4, dan Ghadr. Target yang disasar mencakup pusat komando militer, pangkalan udara, serta titik strategis lainnya di wilayah yang dikuasai Israel.
Beberapa lokasi yang disebut menjadi sasaran antara lain wilayah Al-Jalil, Naqab, hingga pangkalan udara Tel Nof. Bahkan kawasan sekitar Laut Mati bagian selatan juga dilaporkan masuk dalam daftar target operasi.
Serangan Meluas hingga Basis AS
Tak hanya menyasar Israel, operasi ini juga melibatkan serangan terhadap fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Beberapa pangkalan seperti Al Dhafra dan Ali Al-Salem dilaporkan menjadi target drone serang dan rudal berpemandu presisi.
Di sisi lain, kelompok perlawanan dari Lebanon, Irak, dan Yaman turut meningkatkan intensitas serangan mereka. Lebih dari 120 operasi diklaim telah dilancarkan, menyasar wilayah utara dan selatan Palestina yang diduduki serta posisi militer AS di Irak.
Seorang pengamat geopolitik menilai situasi ini berpotensi memperluas konflik menjadi skala regional. “Ini bukan lagi konflik terbatas, melainkan sudah melibatkan banyak aktor dengan kepentingan strategis yang saling bertabrakan,” ujarnya singkat.
Dengan meningkatnya serangan dan kegagalan sistem pertahanan dalam menahan rudal, kekhawatiran akan eskalasi besar semakin menguat. Hingga kini belum ada tanda-tanda deeskalasi dari kedua belah pihak.
Situasi di lapangan terus berkembang, sementara warga sipil di wilayah terdampak dilaporkan mulai mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Baca berita internasional terbaru lainnya hanya di JurnalLugas.Com https://jurnallugas.com
(HD)






