Trump Klaim Iran Minta Gencatan Senjata, Syaratnya Selat Hormuz Harus Dibuka, Ini Kata Teheran

JurnalLugas.Com — Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Donald Trump mengklaim adanya permintaan gencatan senjata dari kepemimpinan baru Teheran. Pernyataan tersebut disampaikan Trump melalui platform Truth Social pada Rabu, 1 April 2026.

Dalam pernyataannya, Trump menyebut bahwa pemimpin baru Iran dinilai lebih rasional dibanding pendahulunya. Ia menegaskan bahwa Washington hanya akan mempertimbangkan permintaan tersebut apabila jalur strategis Selat Hormuz dibuka sepenuhnya.

Bacaan Lainnya

“Pemimpin baru Iran telah meminta gencatan senjata. Namun, kami hanya akan mempertimbangkannya jika Selat Hormuz terbuka, aman, dan bebas,” ujar Trump dalam unggahannya.

Tidak hanya itu, Trump juga melontarkan pernyataan keras dengan mengatakan bahwa Amerika Serikat akan terus melancarkan serangan hingga Iran “kembali ke zaman batu” jika syarat tersebut tidak dipenuhi.

Iran Bantah Klaim Trump

Menanggapi pernyataan tersebut, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeli Baqaei, dengan tegas membantah klaim yang disampaikan Trump. Ia menilai informasi mengenai permintaan gencatan senjata tersebut tidak mencerminkan kondisi sebenarnya.

Baca Juga  Trump Banding Putusan Blokir Tarif Global 10 Persen, Sengketa Dagang AS

“Pernyataan bahwa Iran meminta gencatan senjata tidak sesuai dengan realitas yang terjadi,” ujarnya singkat.

Diplomasi Diam-Diam Masih Berlangsung

Di tengah ketegangan tersebut, sejumlah pejabat Amerika Serikat mengungkapkan bahwa komunikasi antara kedua pihak masih berlangsung. Tiga sumber pejabat AS menyebutkan bahwa upaya diplomasi sedang dijajaki untuk membuka peluang gencatan senjata, dengan salah satu poin utama adalah pembukaan kembali Selat Hormuz.

Meski demikian, belum ada kejelasan apakah dialog tersebut dilakukan secara langsung antara Washington dan Teheran atau melalui pihak ketiga seperti Pakistan.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sebelumnya menegaskan bahwa komunikasi yang terjadi bukanlah bentuk negosiasi resmi, melainkan hanya pertukaran pesan terbatas, baik secara langsung maupun melalui perantara regional.

Trump Sebut Iran Lebih “Masuk Akal”

Dalam beberapa pernyataan terakhir, Trump berulang kali menyebut kepemimpinan baru Iran sebagai pihak yang “lebih masuk akal”. Ia bahkan mengklaim bahwa konflik yang berlangsung akan segera berakhir dan menyebut adanya “perubahan rezim total” di Iran.

Baca Juga  Usulan Gila Trump Minta AS Pungut Tarif Selat Hormuz

Trump juga mengungkapkan bahwa pihaknya telah menjalin komunikasi dengan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, meski belum ada konfirmasi resmi dari pihak Teheran terkait hal tersebut.

Situasi Masih Penuh Ketidakpastian

Hingga kini, situasi antara Amerika Serikat dan Iran masih diliputi ketidakpastian. Pernyataan yang saling bertolak belakang menunjukkan bahwa jalur diplomasi masih rapuh, sementara ketegangan militer tetap menjadi ancaman nyata di kawasan Timur Tengah.

Perkembangan selanjutnya akan sangat bergantung pada kesediaan kedua pihak untuk membuka ruang dialog yang lebih konkret, terutama terkait kepentingan strategis di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi global.

Baca berita lainnya di JurnalLugas.Com

(HD)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait