JurnalLugas.Com — Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah kelompok Houthi mengumumkan operasi militer terkoordinasi yang menyasar wilayah strategis Israel. Klaim tersebut disampaikan pada Sabtu (4/4) melalui siaran resmi mereka, memantik perhatian internasional di tengah situasi kawasan yang masih rapuh.
Dalam pernyataannya, juru bicara militer Houthi, Yahya Sarea, menyebut operasi itu sebagai “misi gabungan” yang melibatkan sejumlah kekuatan regional. Target utama disebut mencakup Bandara Ben Gurion serta beberapa instalasi militer strategis lainnya di Israel.
Menurut Sarea, serangan dilakukan menggunakan kombinasi rudal balistik dan drone tempur. Ia mengklaim operasi tersebut berjalan sesuai rencana dan mencapai sasaran yang diinginkan. Namun, hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pihak Israel terkait dampak maupun keberhasilan serangan tersebut.
Dalam narasi yang disampaikan, Houthi mengklaim bekerja sama dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), militer Iran, serta kelompok Hezbollah di Lebanon. Jika klaim ini akurat, maka operasi tersebut mencerminkan peningkatan koordinasi antar aktor non-negara dan negara di kawasan.
Seorang analis keamanan regional yang enggan disebutkan namanya menilai, pola kolaborasi ini menunjukkan “pergeseran taktik menuju operasi lintas wilayah yang lebih kompleks dan terintegrasi.”
Serangan yang diklaim ini bukanlah yang pertama. Sejak akhir Maret, Houthi dilaporkan mulai meningkatkan intensitas serangan ke arah Israel sebagai bentuk solidaritas terhadap sekutu mereka di kawasan, termasuk Iran, Irak, Lebanon, dan Palestina.
Kelompok ini sendiri telah menguasai ibu kota Sanaa serta sebagian besar wilayah utara Yaman sejak 2014. Dalam beberapa tahun terakhir, mereka semakin aktif dalam dinamika konflik regional, terutama dalam konteks rivalitas antara Iran dan blok yang dipimpin Amerika Serikat.
Keterlibatan Houthi juga tercatat dalam konflik singkat selama 12 hari pada 2025 yang melibatkan Iran dan sekutunya melawan kepentingan Amerika Serikat dan Israel. Pengalaman tersebut diyakini memperkuat kapasitas operasional mereka dalam melancarkan serangan jarak jauh.
Pengamat militer menilai bahwa klaim serangan ke fasilitas vital seperti Bandara Ben Gurion, jika terbukti, dapat memicu respons keras dari Israel. Hal ini berpotensi memperluas konflik menjadi konfrontasi regional yang lebih terbuka.
“Setiap serangan terhadap infrastruktur sipil strategis akan dianggap sebagai eskalasi serius,” ujar seorang pengamat pertahanan Timur Tengah, menambahkan bahwa respons Israel kemungkinan tidak akan terbatas.
Di tengah ketidakpastian ini, komunitas internasional diharapkan mendorong de-eskalasi guna mencegah konflik yang lebih luas dan berkepanjangan di kawasan yang sudah lama dilanda ketegangan.
Baca selengkapnya berita dan analisis mendalam lainnya di JurnalLugas.Com
(HD)






