JurnalLugas.Com – Lonjakan kasus campak kembali menjadi perhatian serius di wilayah Subang, Jawa Barat. Sepanjang tahun 2025 hingga triwulan pertama 2026, ratusan temuan kasus mengindikasikan bahwa penyakit menular ini masih menjadi ancaman nyata, terutama bagi anak-anak.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Subang, Indriati Oetama, menegaskan bahwa campak bukan penyakit yang sudah hilang, melainkan masih terus muncul setiap tahun dengan potensi penyebaran yang cepat.
“Campak ini masih ada dan terus ditemukan setiap tahun. Ini harus menjadi kewaspadaan bersama,” ujarnya, Minggu (5/4/2026).
Ancaman Nyata Penyakit Menular
Campak merupakan penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh virus dari kelompok Morbillivirus. Penyakit ini umumnya menyerang anak-anak dan ditandai dengan gejala seperti demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, serta ruam pada kulit.
Penularannya tergolong sangat cepat, baik melalui percikan droplet saat penderita batuk atau bersin, maupun melalui udara (airborne). Dalam kondisi tertentu, satu penderita dapat menularkan virus ke banyak orang di sekitarnya, terutama di lingkungan dengan imunitas rendah.
Data Kasus Mengkhawatirkan
Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan Subang, sejak pertengahan 2025 hingga Maret 2026, tercatat sebanyak 146 kasus suspek campak. Dari jumlah tersebut, 55 kasus telah menjalani uji laboratorium, dan 33 di antaranya dinyatakan positif.
Angka ini menunjukkan bahwa penyebaran campak masih aktif terjadi di masyarakat. Bahkan, dalam standar epidemiologi, jika suatu wilayah mencatat lebih dari lima kasus suspek, kondisi tersebut sudah masuk kategori serius dan berpotensi menjadi kejadian luar biasa (KLB).
Imunisasi Jadi Kunci Pencegahan
Merespons situasi ini, Dinas Kesehatan Subang mempercepat program kejar imunisasi campak, terutama bagi anak usia 9 hingga 59 bulan. Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan kekebalan kelompok (herd immunity) dan memutus rantai penularan.
Program imunisasi digencarkan melalui berbagai fasilitas layanan kesehatan, mulai dari puskesmas, posyandu, hingga kegiatan layanan kesehatan di lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD).
Indriati menekankan pentingnya peran orang tua dalam memastikan anak-anak mendapatkan imunisasi lengkap. “Imunisasi adalah langkah paling efektif untuk mencegah campak. Jangan menunggu sampai anak sakit,” katanya singkat.
Peran Aktif Masyarakat
Selain imunisasi, masyarakat juga diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dengan menjaga kebersihan, mengenali gejala awal, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika menemukan tanda-tanda campak.
Kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat menjadi kunci dalam menekan penyebaran penyakit ini agar tidak berkembang menjadi wabah yang lebih luas.
Dengan tren kasus yang masih ditemukan setiap tahun, campak bukan lagi sekadar penyakit lama, tetapi ancaman kesehatan yang terus berulang jika tidak ditangani secara sistematis dan berkelanjutan.
Baca berita kesehatan dan informasi terkini lainnya di JurnalLugas.Com.
(BW)






