JurnalLugas.Com — Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah Iran mengeluarkan peringatan keras terkait potensi eskalasi konflik yang lebih luas. Pada Senin (6/4), otoritas militer Iran menegaskan bahwa setiap serangan lanjutan terhadap target sipil akan dibalas dengan operasi yang jauh lebih destruktif dan berskala besar.
Pernyataan tersebut disampaikan juru bicara Markas Pusat Khatam al-Anbiya, yang menegaskan bahwa respons militer Iran tidak lagi terbatas jika garis merah mereka dilanggar. “Jika serangan terhadap target sipil terulang, tahap berikutnya dari operasi balasan kami akan jauh lebih luas dan menghancurkan,” ujarnya secara tegas.
Ancaman ini muncul di tengah memanasnya retorika antara Teheran dan Washington. Presiden Donald Trump sebelumnya memperingatkan bahwa Amerika Serikat siap menghancurkan infrastruktur sipil Iran jika akses strategis di Selat Hormuz terus diblokade.
Namun, Iran tidak tinggal diam. Penasihat pemimpin tertinggi Iran, Ali Akbar Velayati, mengirim sinyal keras melalui pernyataan publiknya sehari sebelumnya. Ia mengisyaratkan bahwa kelompok sekutu Iran di kawasan dapat memperluas tekanan ke jalur pelayaran global lain yang tak kalah vital.
Velayati secara spesifik menyebut Selat Bab el-Mandeb sebagai titik krusial yang berpotensi terdampak. “Jika Gedung Putih mengulangi kesalahan strategisnya, mereka akan segera menyadari bahwa arus energi dan perdagangan global bisa terganggu hanya dengan satu sinyal,” ujarnya singkat.
Selat Bab el-Mandeb sendiri merupakan salah satu choke point paling vital dalam sistem perdagangan dunia. Jalur ini menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden, menjadi penghubung utama antara Samudra Atlantik, Samudra Hindia, dan Laut Mediterania. Gangguan di kawasan ini berpotensi memicu lonjakan harga energi global serta menghambat distribusi logistik internasional.
Pengamat geopolitik menilai bahwa pernyataan keras dari kedua pihak menunjukkan meningkatnya risiko konflik terbuka yang tidak hanya berdampak regional, tetapi juga global. Ancaman terhadap jalur energi strategis seperti Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb menjadi indikator bahwa konflik ini dapat menjalar ke sektor ekonomi dunia secara langsung.
Dengan eskalasi yang terus berkembang, dunia kini menanti langkah selanjutnya dari kedua negara, sembari mencermati potensi dampak terhadap stabilitas energi dan perdagangan internasional.
Baca selengkapnya di: https://JurnalLugas.Com
(HD)






