Darurat Campak di Sampang, 90 Warga Terduga Terinfeksi, Anak-anak Paling Rentan

JurnalLugas.Com — Kewaspadaan terhadap penyakit menular kembali meningkat di Kabupaten Sampang, Jawa Timur. Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (Dinkes-KB) setempat mengungkap temuan puluhan warga yang menunjukkan gejala kuat penyakit campak, memicu langkah cepat pengawasan dan pengujian laboratorium.

Hingga akhir Maret 2026, sedikitnya 90 orang dilaporkan mengalami gejala yang mengarah pada infeksi campak. Dari jumlah tersebut, sebagian telah menjalani pengambilan sampel untuk memastikan diagnosis melalui uji laboratorium rujukan di Surabaya.

Bacaan Lainnya

Ketua tim surveilans imunisasi bidang pencegahan penyakit, Laili Nafilah, menjelaskan bahwa temuan ini merupakan hasil akumulasi laporan dari berbagai fasilitas kesehatan tingkat pertama.

“Data ini berasal dari pemantauan intensif puskesmas di seluruh wilayah Sampang. Kami terus melakukan verifikasi untuk memastikan status kasus,” ujarnya.

Sebaran Kasus Meluas, Tiga Wilayah Jadi Sorotan

Dari hasil pemetaan sementara, kasus dugaan campak tidak terpusat di satu wilayah, melainkan tersebar di hampir seluruh kecamatan. Namun, terdapat tiga puskesmas dengan jumlah pasien paling menonjol, yakni wilayah Banyuanyar, Tambelangan, dan Robatal.

Baca Juga  Lonjakan Suspek Campak Jateng Tembus 2.000 Kasus, Pemerintah Perketat Imunisasi Massal

Di ketiga titik tersebut, jumlah pasien yang menjalani perawatan dilaporkan telah menembus angka belasan. Kondisi ini menjadi perhatian khusus karena berpotensi mempercepat penyebaran jika tidak segera dikendalikan.

Gejala Khas Campak Mulai Bermunculan

Dinkes-KB juga mengingatkan masyarakat untuk lebih peka terhadap gejala awal campak yang seringkali dianggap sebagai penyakit biasa. Pasien umumnya mengalami demam tinggi yang bisa mencapai 40 derajat Celsius, disertai batuk kering, pilek, serta iritasi pada mata.

Beberapa hari kemudian, muncul tanda khas berupa bintik putih di dalam mulut yang dikenal sebagai Koplik, diikuti ruam merah yang menyebar dari wajah hingga ke seluruh tubuh.

“Selain itu, penderita biasanya kehilangan nafsu makan, tampak lemah, bahkan mengalami gangguan pencernaan seperti diare atau muntah,” kata Laili.

Anak-anak Jadi Kelompok Rentan

Berdasarkan tren sebelumnya, kelompok usia anak-anak masih menjadi yang paling rentan terhadap infeksi campak. Pada tahun 2025, jumlah kasus di Kabupaten Sampang tercatat mencapai ratusan, dengan mayoritas pasien berusia antara sembilan bulan hingga tujuh tahun.

Baca Juga  Kasus Campak Meledak di Subang, Indriati Oetama Ini Bukan Penyakit Lama yang Hilang

Fenomena ini memperkuat pentingnya cakupan imunisasi dasar lengkap sebagai benteng utama pencegahan.

Madura Masih Hadapi Ancaman Serupa

Tidak hanya Sampang, wilayah lain di Pulau Madura juga dilaporkan menghadapi kasus serupa. Kabupaten Sumenep, Pamekasan, hingga Bangkalan menunjukkan tren peningkatan yang sejalan, menandakan perlunya intervensi kesehatan yang lebih luas dan terkoordinasi.

Dinkes mengimbau masyarakat untuk tidak mengabaikan gejala awal dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Upaya pencegahan seperti imunisasi, menjaga kebersihan, serta menghindari kontak dengan penderita menjadi kunci utama memutus rantai penularan.

Di tengah meningkatnya mobilitas masyarakat, langkah deteksi dini dan respons cepat dinilai menjadi faktor penentu dalam menahan potensi wabah yang lebih besar.

Baca berita kesehatan lainnya di: https://JurnalLugas.Com

(BW)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait