Target 4 Juta Ton, Bulog Minta Petani Jaga Kualitas Gabah

JurnalLugas.Com — Upaya pemerintah mempercepat swasembada pangan nasional terus digencarkan melalui penguatan penyerapan hasil panen di daerah. Di Sulawesi Tengah, langkah ini mendapat perhatian serius dari Perum Bulog yang menekankan pentingnya kualitas gabah sebagai fondasi utama keberhasilan program tersebut.

Direktur Pengadaan Perum Bulog, Prihasto Setyanto, menegaskan bahwa peran petani dan mitra penggilingan tidak sekadar sebagai produsen, tetapi sebagai pilar utama dalam menjaga stabilitas pangan nasional. Dalam kunjungannya ke Desa Sienjo, Kabupaten Parigi Moutong, ia melihat langsung dinamika penyerapan gabah sekaligus berdialog dengan pelaku usaha tani di lapangan.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, keberhasilan penyerapan tidak hanya ditentukan oleh kuantitas, tetapi juga kualitas hasil panen. Ia menilai gabah yang dihasilkan petani setempat sudah cukup baik, namun masih diperlukan peningkatan dari sisi teknis pengolahan agar mampu menghasilkan standar mutu yang lebih tinggi.

“Kualitas harus dijaga sejak awal, mulai dari panen hingga proses penggilingan. Ini penting agar cadangan beras pemerintah tetap layak dalam jangka panjang,” ujarnya.

Baca Juga  Beras Menumpuk 4 Juta Ton di Gudang Ini Peringatan Pengamat untuk Bulog

Kunjungan tersebut juga menjadi bagian dari implementasi arahan Presiden terkait percepatan swasembada pangan berkelanjutan. Fokus utamanya adalah memastikan hasil produksi petani terserap optimal melalui sistem yang terintegrasi dari pusat hingga daerah.

Secara nasional, pemerintah menargetkan penyerapan gabah setara 4 juta ton beras pada tahun 2026. Untuk mencapai angka tersebut, Bulog menginstruksikan seluruh kantor wilayah agar bergerak lebih agresif menyasar sentra produksi padi. Langkah ini dilakukan dengan memperkuat jaringan pengadaan langsung dari petani dan penggilingan.

Prihasto menekankan bahwa setiap wilayah telah memiliki target yang harus dicapai, sehingga diperlukan pendekatan aktif di lapangan. “Wilayah sentra produksi harus dimasuki secara masif. Tidak bisa menunggu, harus jemput bola,” katanya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa mekanisme penyerapan telah diatur dalam Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2025 yang mengatur pengadaan dan pengelolaan gabah serta beras dalam negeri. Regulasi tersebut menegaskan pentingnya menjaga mutu sebagai syarat utama dalam pengisian cadangan beras pemerintah.

Selain itu, edukasi kepada petani juga menjadi prioritas. Bulog mendorong agar proses panen dilakukan pada waktu yang tepat guna menjaga kualitas gabah tetap optimal.

Baca Juga  PT Pupuk Indonesia Salurkan Pupuk Bersubsidi Mulai Tahun Depan Ke 14 juta Petani Ini Rinciannya

Di tingkat daerah, Pimpinan Wilayah Bulog Sulawesi Tengah, Jusri, memastikan pihaknya terus memperkuat langkah strategis dengan turun langsung ke sentra produksi. Pendekatan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan serapan, tetapi juga membangun hubungan yang lebih erat dengan petani.

“Petani harus merasa memiliki kepastian pasar. Bulog hadir sebagai penyangga dengan harga yang stabil sesuai kebijakan pemerintah,” ujarnya.

Langkah intensif yang dilakukan Bulog di Sulawesi Tengah mencerminkan strategi nasional dalam memperkuat ketahanan pangan dari hulu ke hilir. Dengan menjaga kualitas dan mempercepat penyerapan, target swasembada pangan bukan sekadar wacana, melainkan target realistis yang terus dikejar.

Di tengah tantangan perubahan iklim dan dinamika produksi, konsistensi antara petani, penggilingan, dan pemerintah menjadi kunci utama menuju kemandirian pangan Indonesia.

Kunjungi juga informasi lainnya di JurnalLugas.Com

(ED)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait