JurnalLugas.Com — Menjelang momentum Idul Adha 2026, pemerintah memastikan kondisi pasokan daging sapi nasional berada dalam status aman dan terkendali. Kepastian ini menjadi penegas bahwa stabilitas pangan, khususnya protein hewani, tetap menjadi prioritas strategis di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat.
Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menegaskan bahwa pemerintah telah mengantisipasi lonjakan permintaan melalui pendekatan berbasis data yang terukur. Perhitungan dilakukan menggunakan mekanisme neraca komoditas, sebuah sistem yang mengintegrasikan produksi dalam negeri, kebutuhan konsumsi, serta skema impor secara proporsional.
“Ketersediaan kita aman. Semua sudah dihitung melalui neraca komoditas, termasuk kebutuhan daging segar, sapi bakalan, dan populasi dalam negeri,” ujarnya dalam agenda kontes sapi nasional di Wonosobo, Jawa Tengah.
Pendekatan ini, menurutnya, menjadi kunci untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan pasar dan keberlangsungan usaha peternak lokal. Pemerintah menegaskan tidak akan membuka keran impor secara berlebihan yang berpotensi menekan harga di tingkat peternak.
“Kebijakan impor tidak dilakukan sembarangan. Semua dikontrol ketat agar peternak lokal tetap terlindungi,” katanya.
Tidak hanya fokus pada daging sapi, skema neraca komoditas juga diterapkan pada sejumlah bahan pangan lain yang masih bergantung pada pasokan luar negeri, seperti bawang putih. Langkah ini bertujuan untuk meredam spekulasi pasar sekaligus menjaga kepercayaan publik terhadap ketersediaan pangan nasional.
Di sisi harga, pemerintah memastikan bahwa daging tetap dijual sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET). Meski sempat terjadi fluktuasi, pemerintah bergerak cepat melakukan penelusuran menyeluruh dari hulu hingga hilir.
“Kalau ada kenaikan harga, langsung kita telusuri dari feedlot, rumah potong, sampai pedagang. Harus segera dikendalikan,” tegasnya.
Sementara itu, dari sisi produksi daerah, Jawa Tengah menunjukkan tren positif dalam pengembangan peternakan. Total populasi ternak di wilayah ini telah mencapai sekitar 6,3 juta ekor, dengan kontribusi sapi sekitar 1,2 juta ekor. Angka tersebut masih berada di bawah populasi kambing yang mencapai sekitar 3 juta ekor, disusul domba dan kerbau.
Untuk menjaga kualitas dan kesehatan ternak menjelang Idul Adha, pemerintah daerah menginisiasi program layanan kesehatan hewan keliling atau “healing”. Program ini menghadirkan dokter hewan langsung ke lapangan guna memberikan vaksinasi, pemeriksaan penyakit menular, hingga layanan konsultasi gratis bagi peternak.
Program tersebut dinilai efektif dalam mencegah penyebaran penyakit sekaligus memastikan hewan kurban dalam kondisi sehat dan layak konsumsi.
Dengan kombinasi kebijakan berbasis data, pengawasan harga, serta penguatan sektor peternakan daerah, pemerintah optimistis kebutuhan daging masyarakat saat Idul Adha 2026 dapat terpenuhi tanpa gejolak berarti.
Untuk informasi terbaru seputar ekonomi, pangan, dan kebijakan nasional, kunjungi JurnalLugas.Com.
(ED)






