JurnalLugas.Com — Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto menyiapkan langkah besar dalam pembenahan infrastruktur transportasi nasional. Sekitar Rp4 triliun dialokasikan khusus untuk meningkatkan keselamatan di 1.800 titik perlintasan sebidang kereta api yang tersebar di Pulau Jawa.
Langkah ini menjadi salah satu kebijakan strategis setelah pemerintah menyoroti tingginya risiko kecelakaan di jalur perlintasan yang selama ini minim pengawasan.
Fokus Keselamatan di Jalur Rawan Kecelakaan
Dalam kunjungan ke RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid, Kota Bekasi, Prabowo menegaskan bahwa pembenahan ini tidak bisa lagi ditunda. Ia menyebut banyak perlintasan kereta yang merupakan peninggalan lama dan belum tersentuh modernisasi secara menyeluruh.
“Anggarannya kita siapkan hampir Rp4 triliun untuk keselamatan masyarakat,” ujar Presiden dalam pernyataan singkatnya di sela peninjauan korban kecelakaan.
Menurutnya, kondisi ribuan perlintasan yang tidak memiliki sistem penjagaan memadai telah lama menjadi sumber potensi kecelakaan lalu lintas yang serius.
Dua Skema Penanganan Pos Jaga dan Flyover
Pemerintah menyiapkan dua pendekatan utama dalam proyek perbaikan ini, yaitu pembangunan pos penjagaan di titik tertentu serta pembangunan jembatan layang (flyover) di lokasi dengan kepadatan tinggi.
Presiden menegaskan instruksi tersebut akan segera dijalankan oleh kementerian terkait. “Semua lintasan akan kita evaluasi, bisa dengan pos jaga atau flyover, pelaksanaannya segera ditentukan,” ungkapnya.
Untuk wilayah Bekasi, pemerintah pusat telah menyetujui pembangunan flyover melalui skema bantuan presiden sebagai respons atas tingginya mobilitas dan kepadatan kendaraan di kawasan tersebut.
Pemerintah menilai bahwa sebagian besar perlintasan sebidang di Pulau Jawa merupakan warisan infrastruktur sejak masa kolonial yang kini tidak lagi sesuai dengan kebutuhan transportasi modern.
Kondisi ini diperparah dengan pertumbuhan kendaraan dan aktivitas masyarakat yang meningkat pesat, sehingga titik-titik tersebut menjadi area rawan kecelakaan jika tidak segera ditangani.
Di sisi lain, data sementara hingga pukul 08.45 WIB mencatat tragedi kecelakaan kereta di kawasan Stasiun Bekasi Timur menelan korban cukup besar, yakni 14 orang meninggal dunia dan 84 lainnya mengalami luka-luka.
Seluruh korban luka telah dievakuasi ke sejumlah fasilitas kesehatan, termasuk RSUD Bekasi, RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi, serta beberapa rumah sakit swasta di wilayah sekitar.
Pihak PT Kereta Api Indonesia (Persero) menyampaikan bahwa seluruh biaya pengobatan korban luka serta pemakaman korban meninggal akan ditanggung melalui asuransi dan mekanisme perusahaan.
“Kami memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan maksimal, termasuk pembiayaan penuh,” ujar perwakilan KAI.
Sebagai respons cepat, KAI juga telah membuka Posko Tanggap Darurat serta Posko Informasi di Stasiun Bekasi Timur. Posko ini disiapkan untuk membantu keluarga korban dalam memperoleh informasi resmi terkait kondisi penumpang maupun penanganan barang-barang milik korban.
Langkah ini diharapkan dapat memberikan kepastian informasi sekaligus mempercepat proses penanganan pascakecelakaan.
Program perbaikan 1.800 perlintasan kereta ini menjadi salah satu agenda besar pemerintah dalam memperkuat keselamatan transportasi publik di Indonesia. Dengan anggaran jumbo dan pendekatan infrastruktur modern, pemerintah berharap angka kecelakaan di jalur sebidang dapat ditekan secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
Baca berita lainnya JurnalLugas.Com
(SF)






