JurnalLugas.Com — Pemerintah semakin serius menggeser peta energi rumah tangga nasional. Usai rapat terbatas di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, memaparkan arah baru kebijakan energi berbasis gas bumi melalui pemanfaatan Compressed Natural Gas (CNG).
Menurutnya, CNG bukanlah teknologi baru di Indonesia. Selama ini, energi berbasis gas bertekanan tersebut telah digunakan secara terbatas di sektor komersial seperti perhotelan, restoran, hingga mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Pemanfaatannya sudah ada, tapi memang masih dalam skala besar. Sekarang kita dorong agar bisa masuk ke rumah tangga,” ujarnya.
Dari Tabung Besar ke Skala Rumah Tangga
Selama ini, penggunaan CNG identik dengan tabung berkapasitas besar, berkisar di atas 10 hingga 20 kilogram. Tantangan berikutnya adalah bagaimana teknologi tersebut dapat diadaptasi menjadi lebih praktis dan aman untuk kebutuhan dapur rumah tangga.
Pemerintah saat ini tengah menunggu hasil uji teknis sebelum memutuskan implementasi luas. Jika dinyatakan layak, skema konversi dari LPG ke CNG akan dilakukan secara bertahap.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar pemerintah dalam menata ulang konsumsi energi domestik yang selama ini masih bergantung pada impor LPG.
Kekuatan Ada di Dalam Negeri
Salah satu alasan utama dorongan penggunaan CNG adalah ketersediaan sumber daya yang melimpah di dalam negeri. Indonesia memiliki cadangan gas alam yang cukup besar, bahkan baru-baru ini ditemukan potensi baru di wilayah Kalimantan Timur.
Cadangan tersebut diproyeksikan dapat memperkuat pasokan energi domestik, sekaligus mengurangi tekanan terhadap anggaran negara akibat impor energi.
“Bahan bakunya kita punya. Tinggal bagaimana kita optimalkan untuk kebutuhan rakyat,” kata Bahlil.
Skema Subsidi Masih Digodok
Di sisi lain, pemerintah juga tengah mengkaji model subsidi yang paling tepat untuk CNG. Meski belum final, opsi pemberian subsidi tetap terbuka sebagai bentuk perlindungan bagi masyarakat.
Yang menarik, proyeksi awal menunjukkan bahwa beban subsidi CNG berpotensi lebih ringan dibanding LPG. Perhitungannya bahkan menunjukkan efisiensi hingga sekitar 30 persen lebih hemat.
Hal ini menjadi sinyal kuat bahwa transisi ke CNG tidak hanya berdampak pada ketahanan energi, tetapi juga pada kesehatan fiskal negara.
Langkah menghadirkan CNG ke dapur rumah tangga bukan sekadar inovasi teknis, melainkan bagian dari transformasi energi yang lebih luas. Pemerintah berupaya menghadirkan solusi yang realistis memanfaatkan sumber daya lokal, menekan impor, dan tetap menjaga keterjangkauan bagi masyarakat.
Namun demikian, keberhasilan program ini akan sangat ditentukan oleh kesiapan infrastruktur, standar keamanan, serta penerimaan publik.
Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, maka peralihan dari LPG ke CNG bisa menjadi tonggak penting dalam perjalanan Indonesia menuju kemandirian energi.
Baca berita energi dan kebijakan terbaru lainnya di JurnalLugas.Com
(Bowo)






