IHSG Dibuka Melemah ke Level 6.959, Sentimen Pasar Global Masih Bayangi Perdagangan

JurnalLugas.Com — Pergerakan pasar saham domestik memulai awal pekan dengan tekanan moderat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia pada perdagangan Senin pagi, 11 Mei 2026, dibuka di zona merah setelah investor cenderung melakukan aksi hati-hati terhadap sejumlah sentimen global dan domestik.

Pada pembukaan perdagangan, IHSG tercatat turun 9,46 poin atau sekitar 0,14 persen ke posisi 6.959,94. Pelemahan ini menunjukkan pasar masih bergerak fluktuatif di tengah sikap wait and see pelaku pasar terhadap arah kebijakan ekonomi global serta perkembangan nilai tukar rupiah.

Bacaan Lainnya

Tak hanya IHSG, kelompok saham unggulan yang tergabung dalam indeks LQ45 juga ikut terkoreksi. Indeks saham berkapitalisasi besar tersebut melemah 2,48 poin atau sekitar 0,37 persen ke level 674,70 pada sesi awal perdagangan.

Baca Juga  Asia Investment Capital Akuisisi PT Boston Furniture Industries Tbk (SOFA) Simak Sahamnya

Analis pasar modal menilai pelemahan di awal perdagangan dipengaruhi kombinasi faktor eksternal, termasuk pergerakan bursa regional Asia dan ekspektasi investor terhadap suku bunga global. Selain itu, aksi ambil untung pada sejumlah saham big caps turut menekan laju indeks.

“Investor masih cenderung selektif sambil mencermati arah arus modal asing dan perkembangan ekonomi global dalam beberapa hari ke depan,” ujar seorang analis pasar modal dalam keterangannya.

Meski dibuka melemah, pelaku pasar masih melihat peluang penguatan terbatas apabila terjadi akumulasi beli pada saham sektor perbankan, energi, dan konsumsi yang selama ini menjadi penopang utama IHSG.

Di sisi lain, pergerakan harga komoditas dunia juga diperkirakan akan menjadi salah satu penentu arah perdagangan saham domestik sepanjang hari. Fluktuasi harga minyak mentah dan batu bara dinilai masih mempengaruhi minat investor terhadap saham berbasis energi.

Baca Juga  IHSG Bursa Efek Indonesia Menguat Hari Ini

Aktivitas perdagangan di awal sesi terlihat masih didominasi pendekatan konservatif. Investor institusi maupun ritel diperkirakan menunggu momentum yang lebih kuat sebelum meningkatkan transaksi dalam jumlah besar.

Pelaku pasar kini menantikan sejumlah data ekonomi penting serta sentimen global yang berpotensi menentukan arah pasar keuangan Asia, termasuk Indonesia, pada pekan ini.

Baca berita ekonomi dan pasar modal lainnya di JurnalLugas.Com

(William)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait