JurnalLugas.Com — Tekanan politik terhadap pemerintahan Inggris semakin memanas setelah Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan dirinya tidak akan mundur meski Partai Buruh mengalami kemunduran dalam sejumlah pemilihan terbaru.
Dalam rapat kabinet yang berlangsung di London pada Selasa 12 Mei 2026, Starmer menyampaikan pesan tegas kepada jajaran menterinya bahwa pemerintahan harus tetap berjalan di tengah situasi politik yang semakin tidak stabil.
Pernyataan itu muncul setelah gelombang kritik internal terus menguat menyusul hasil elektoral yang dianggap mengecewakan bagi Partai Buruh. Sejumlah anggota parlemen bahkan mulai secara terbuka meminta Starmer meninggalkan jabatannya demi menyelamatkan masa depan partai.
Dalam keterangannya yang dirilis kantor pemerintahan Downing Street, Starmer mengakui dirinya bertanggung jawab penuh atas hasil pemilu yang memicu gejolak politik tersebut.
“Saya bertanggung jawab atas hasil pemilihan ini dan saya juga bertanggung jawab memastikan perubahan yang dijanjikan kepada publik tetap diwujudkan,” kata Starmer singkat.
Ia menegaskan masyarakat Inggris menginginkan pemerintahan tetap fokus bekerja, bukan terjebak dalam konflik internal politik. Karena itu, kabinet diminta menjaga stabilitas pemerintahan di tengah tekanan yang terus meningkat.
Situasi politik di tubuh Partai Buruh sendiri kini dinilai memasuki fase paling sulit sejak Starmer mengambil alih kepemimpinan partai. Kekalahan dalam pemilu lokal dan penurunan dukungan publik membuat posisi politiknya mulai digoyang dari berbagai arah.
Tekanan semakin besar setelah Miatta Fahnbulleh menjadi menteri pertama yang memutuskan mundur dari pemerintahan. Pengunduran diri tersebut memicu spekulasi mengenai kemungkinan eksodus politikus Partai Buruh dari kabinet.
Tak hanya itu, lebih dari 70 anggota parlemen Partai Buruh disebut telah mendesak Starmer untuk segera menentukan langkah politiknya, termasuk mempertimbangkan pengunduran diri demi meredam konflik internal partai.
Krisis politik makin terlihat ketika kantor Perdana Menteri melakukan pergantian enam ajudan menteri dalam satu malam. Langkah cepat itu dilakukan setelah sejumlah pejabat sebelumnya memilih mundur di tengah tekanan politik yang terus meningkat di Westminster.
Pengamat politik Inggris menilai kondisi tersebut mencerminkan ketegangan serius di dalam pemerintahan Partai Buruh. Meski begitu, Starmer masih berusaha mempertahankan kendali dengan menunjukkan bahwa pemerintah tetap solid dan fokus menjalankan agenda negara.
Di tengah dinamika tersebut, publik Inggris kini menunggu langkah lanjutan dari Downing Street, termasuk kemungkinan reshuffle kabinet atau perubahan strategi politik untuk memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan Partai Buruh.
Ikuti berita internasional terbaru lainnya di JurnalLugas.Com
(Handoko)






