JurnalLugas.Com — Pemerintah Venezuela menegaskan tidak akan pernah tunduk menjadi bagian dari Amerika Serikat setelah muncul pernyataan mengejutkan dari Presiden AS, Donald Trump, yang disebut mempertimbangkan Venezuela sebagai negara bagian ke-51 AS.
Pernyataan keras itu disampaikan Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodríguez, usai menghadiri sidang di International Court of Justice, Belanda.
Rodriguez menegaskan rakyat Venezuela memiliki sejarah panjang perjuangan kemerdekaan sehingga gagasan menjadikan negaranya bagian dari Amerika Serikat dianggap mustahil terjadi.
“Kami akan terus mempertahankan integritas, kedaulatan, dan kemerdekaan Venezuela,” ujar Rodriguez kepada wartawan di Den Haag.
Pernyataan tersebut langsung memicu perhatian dunia internasional karena muncul di tengah memanasnya hubungan geopolitik kawasan Amerika Latin dan meningkatnya pengaruh Washington terhadap Caracas.
Sebelumnya, sejumlah media Amerika melaporkan Trump tengah mempertimbangkan skenario Venezuela menjadi negara bagian baru Amerika Serikat. Trump disebut menilai Venezuela memiliki cadangan minyak bernilai besar dan menganggap hubungan kedua negara kini semakin dekat.
Meski demikian, Rodriguez menilai jalur diplomasi tetap menjadi prioritas pemerintah Venezuela. Ia menyebut komunikasi bilateral antara Caracas dan Washington masih berjalan melalui agenda kerja sama tertentu.
Ketegangan politik antara kedua negara semakin meningkat setelah operasi militer Amerika Serikat pada Januari 2026 yang berujung pada penangkapan mantan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, beserta istrinya, Cilia Flores. Sejak saat itu, posisi politik Venezuela menjadi sorotan global.
Trump juga sempat melontarkan candaan mengenai Venezuela sebagai negara bagian AS ketika memberi selamat kepada tim nasional bisbol Venezuela dalam ajang World Baseball Classic beberapa waktu lalu. Namun belakangan, pernyataan itu disebut mulai disampaikan secara lebih serius dalam wawancara media Amerika.
Di sisi lain, Venezuela saat ini masih menghadapi sengketa wilayah Essequibo dengan Guyana. Kawasan kaya minyak dan mineral tersebut sedang diproses dalam sidang Mahkamah Internasional di Den Haag. Rodriguez menegaskan negaranya akan terus mempertahankan klaim wilayah tersebut sebagai bagian dari kedaulatan Venezuela.
Pengamat geopolitik menilai pernyataan Trump terkait Venezuela dapat memicu ketegangan baru di kawasan Amerika Latin, terutama karena isu kedaulatan dan sumber daya energi menjadi faktor sensitif dalam hubungan internasional.
Wacana menjadikan Venezuela bagian dari Amerika Serikat juga dinilai sulit terealisasi secara hukum internasional maupun politik domestik Venezuela, mengingat kuatnya sentimen nasionalisme di negara tersebut.
Hingga kini belum ada langkah resmi dari Gedung Putih terkait kemungkinan penggabungan Venezuela sebagai wilayah Amerika Serikat. Namun polemik itu telah memancing reaksi luas di media internasional dan menjadi perhatian publik global.
Baca berita internasional terbaru lainnya di JurnalLugas.Com
(Handoko)






