JurnalLugas.Com –;Pergerakan IHSG dalam beberapa hari terakhir kembali menjadi perhatian pelaku pasar setelah muncul sentimen terkait pembentukan perusahaan BUMN baru di sektor ekspor sumber daya alam.
Rencana pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dinilai memicu respons cepat dari investor karena menyangkut tata kelola ekspor nasional dan arah kebijakan ekonomi pemerintah ke depan.
Konsultan serta perencana keuangan Elvi Diana menilai gejolak yang terjadi menunjukkan pasar modal Indonesia memiliki sensitivitas tinggi terhadap kebijakan strategis negara, terutama yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya dan iklim investasi.
“Pasar saat ini tidak hanya melihat data ekonomi, tetapi juga membaca persepsi risiko dan kepastian arah kebijakan pemerintah,” ujar Elvi dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu 23 Mei 2026.
Menurutnya, investor masih menunggu kejelasan mengenai mekanisme bisnis Danantara DSI, pola tata kelola perusahaan, hingga dampaknya terhadap persaingan usaha nasional.
Ketidakpastian tersebut disebut menjadi salah satu faktor yang memicu volatilitas di pasar saham. Pelaku pasar cenderung berhati-hati ketika muncul kebijakan baru yang dinilai berpotensi mengubah struktur ekonomi atau distribusi bisnis di sektor tertentu.
Elvi menjelaskan dalam teori behavioral finance, pasar modal sangat dipengaruhi oleh sentimen dan ekspektasi. Karena itu, kebijakan ekonomi yang belum memiliki penjelasan rinci sering kali memunculkan kekhawatiran di kalangan investor.
“Ketika arah kebijakan belum dipahami sepenuhnya, investor biasanya memilih menahan diri atau melakukan penyesuaian portofolio untuk mengurangi risiko,” katanya.
Ia menilai pemerintah perlu menyiapkan mitigasi yang matang sebelum meluncurkan kebijakan ekonomi berskala besar agar dampak negatif terhadap pasar bisa ditekan.
Selain substansi kebijakan, komunikasi publik yang jelas dan konsisten disebut menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas pasar modal.
Elvi menekankan pentingnya roadmap transparan, kepastian hukum, serta penjelasan komprehensif agar investor memiliki gambaran jelas mengenai tujuan dan dampak kebijakan tersebut.
“Pasar membutuhkan kepastian. Ketika pemerintah mampu menjelaskan arah kebijakan secara terbuka dan konsisten, tingkat kepanikan atau spekulasi bisa ditekan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa stabilitas IHSG bukan sekadar soal perdagangan saham harian, tetapi berkaitan langsung dengan tingkat kepercayaan dunia usaha, masuknya investasi asing, hingga pertumbuhan ekonomi nasional.
Dalam perspektif teori ekspektasi rasional, pelaku pasar disebut selalu mencoba memperkirakan potensi keuntungan dan risiko dari setiap kebijakan pemerintah sebelum mengambil keputusan investasi.
Karena itu, koordinasi antara pemerintah, otoritas pasar modal, dan lembaga keuangan dianggap penting untuk menjaga kepercayaan investor di tengah perubahan kebijakan strategis nasional.
Pengamat ekonomi lainnya, Raka Mahendra, menilai pasar Indonesia saat ini bergerak sangat cepat merespons isu kebijakan karena dominasi investor institusi dan tingginya arus informasi digital.
“Sedikit ketidakjelasan saja bisa langsung memicu aksi jual atau koreksi pasar. Ini menunjukkan pentingnya transparansi sejak awal,” katanya.
Meski demikian, sejumlah analis meyakini gejolak pasar masih dapat diredam apabila pemerintah segera memberikan penjelasan rinci terkait model bisnis, pengawasan, serta tujuan pembentukan Danantara DSI.
Ikuti berita ekonomi dan pasar modal terbaru lainnya di JurnalLugas.Com
(Hans)






