Harga Emas Dunia Berbalik Menguat, Data Tenaga Kerja AS dan Sinyal Inflasi Jadi Penopang

JurnalLugas.Com – Pasar emas global kembali menunjukkan penguatan setelah tekanan yang terjadi pada awal pekan mulai mereda. Investor memanfaatkan perubahan sentimen dari Amerika Serikat yang dipicu data ketenagakerjaan lebih lemah dari ekspektasi serta sinyal meredanya tekanan inflasi dari bank sentral AS.

Pada perdagangan Rabu (1/7/2026), harga emas spot naik sekitar 0,60 persen ke posisi USD4.031,71 per troy ons. Kenaikan tersebut terjadi setelah logam mulia itu sebelumnya sempat menyentuh level terendah dalam beberapa bulan terakhir.

Bacaan Lainnya

Pelaku pasar melihat perlambatan penciptaan lapangan kerja di sektor swasta Amerika Serikat sebagai sinyal bahwa tekanan ekonomi mulai melunak.

Kondisi itu memunculkan harapan bahwa arah kebijakan moneter Federal Reserve dapat menjadi lebih fleksibel pada periode mendatang.

Laporan ketenagakerjaan ADP mencatat penambahan sekitar 98.000 pekerjaan di sektor swasta sepanjang bulan lalu.

Angka tersebut berada di bawah perkiraan pasar yang sebelumnya memproyeksikan pertumbuhan sekitar 118.000 pekerjaan.

Baca Juga  Harga Emas Antam Kembali Ugal-ugalan, Investor Ramai Pantau Tren Kenaikan

Sentimen positif bagi emas juga datang dari pernyataan Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, yang menilai tekanan inflasi mulai menunjukkan tren penurunan dalam beberapa pekan terakhir.

Meski demikian, bank sentral AS tetap menegaskan komitmennya menjaga inflasi agar kembali menuju target 2 persen.

Trader logam independen Tai Wong menilai kombinasi data ekonomi yang lebih lemah dan meredanya ekspektasi inflasi berhasil menghidupkan kembali minat investor terhadap emas.

“Data tenaga kerja yang lebih rendah menjadi pemicu awal, sementara sinyal inflasi yang melandai ikut mengangkat kembali pasar emas,” ujar Tai Wong.

Menurutnya, harga emas berpotensi mempertahankan tren pemulihan dalam jangka pendek selama laporan ketenagakerjaan resmi Amerika Serikat atau Nonfarm Payrolls (NFP) tidak memberikan kejutan yang jauh lebih kuat dari perkiraan pasar.

Selain dipengaruhi faktor ekonomi, perhatian investor juga tertuju pada perkembangan geopolitik. Amerika Serikat dan Iran diketahui melanjutkan pembicaraan teknis di Doha guna membahas keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz sekaligus mencari solusi menuju gencatan senjata yang lebih berkelanjutan.

Perkembangan tersebut menjadi salah satu faktor yang terus dipantau pelaku pasar karena berpotensi memengaruhi stabilitas pasar energi maupun aset-aset safe haven seperti emas.

Di sisi lain, instrumen CME FedWatch Tool menunjukkan mayoritas pelaku pasar masih memperkirakan peluang perubahan kebijakan suku bunga pada pertemuan Federal Reserve September mendatang.

Ekspektasi terhadap arah suku bunga akan tetap menjadi penentu utama pergerakan harga emas dalam beberapa pekan ke depan.

Tidak hanya emas, logam mulia lainnya juga mencatat penguatan. Harga perak, platinum, dan paladium sama-sama bergerak naik seiring meningkatnya minat investor terhadap kelompok logam berharga setelah sentimen pasar membaik.

Dengan kombinasi faktor ekonomi, kebijakan moneter, dan dinamika geopolitik, pasar emas diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif.

Investor kini menunggu data ekonomi lanjutan dari Amerika Serikat sebagai petunjuk arah harga logam mulia berikutnya.

Baca berita ekonomi, investasi, dan pasar keuangan terbaru lainnya di JurnalLugas.Com.

(Endarto)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait