JurnalLugas.Com – Situasi keamanan di Timur Tengah kembali memanas setelah kelompok Houthi di Yaman mengumumkan pemberlakuan blokade maritim terhadap Arab Saudi yang dinyatakan berlaku efektif mulai Senin (20/7/2026).
Langkah tersebut memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas kawasan sekaligus berpotensi memengaruhi jalur perdagangan internasional.
Pengumuman itu disampaikan juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, melalui pernyataan yang disiarkan televisi Al-Masirah.
Dalam keterangannya, Saree menegaskan bahwa seluruh aktivitas pelayaran yang berkaitan dengan Arab Saudi menjadi sasaran blokade.
“Larangan navigasi maritim yang berkaitan dengan Arab Saudi mulai berlaku sejak pernyataan ini diumumkan,” kata Yahya Saree.
Houthi Ancam Tingkatkan Serangan
Selain mengumumkan blokade laut, Houthi juga melontarkan peringatan keras kepada Arab Saudi.
Kelompok tersebut menyatakan siap meningkatkan aksi militer apabila Riyadh mengambil langkah yang dianggap sebagai bentuk eskalasi.
Menurut Saree, setiap tindakan yang dilakukan Arab Saudi akan dibalas dengan respons yang lebih besar dan lebih luas.
Pernyataan itu menambah ketegangan di kawasan yang dalam beberapa pekan terakhir kembali menjadi perhatian dunia akibat meningkatnya konflik antara sejumlah negara di Timur Tengah.
Saudi Belum Berikan Tanggapan
Hingga pengumuman tersebut disampaikan, pemerintah Arab Saudi belum memberikan pernyataan resmi mengenai klaim blokade maritim yang diumumkan Houthi.
Sikap diam Riyadh membuat pelaku pasar dan komunitas internasional masih menunggu perkembangan lebih lanjut mengenai dampak kebijakan tersebut terhadap aktivitas pelayaran di kawasan Laut Merah dan sekitarnya.
Berawal dari Tuduhan Serangan Bandara Sanaa
Ketegangan terbaru bermula setelah pekan lalu Houthi menuding Arab Saudi melancarkan serangan udara ke Bandara Internasional Sanaa.
Kelompok itu juga mengklaim terjadi peluncuran rudal ke wilayah Saudi sehingga mengakhiri periode ketenangan yang telah berlangsung selama beberapa tahun.
Meski Arab Saudi tidak memberikan tanggapan atas tuduhan tersebut, pemerintah Yaman yang diakui secara internasional menyatakan bertanggung jawab atas operasi tersebut.
Pemerintah Yaman menjelaskan bahwa sasaran serangan adalah Bandara Sanaa untuk mencegah pesawat yang disebut berasal dari Iran mendarat di wilayah tersebut.
Pengamat menilai meningkatnya ketegangan di Laut Merah berpotensi mengganggu jalur pelayaran internasional yang menjadi salah satu rute penting perdagangan minyak dan barang dunia.
Jika situasi terus memburuk, biaya logistik global berisiko meningkat, sementara harga energi dan komoditas dapat kembali mengalami tekanan akibat kekhawatiran terhadap gangguan distribusi.
“Perkembangan di Laut Merah menjadi salah satu faktor yang terus dipantau karena memiliki dampak besar terhadap perdagangan internasional dan pasar energi,” ujar seorang analis geopolitik.
Dengan belum adanya tanda-tanda meredanya konflik, pelaku pasar global diperkirakan akan terus mencermati setiap perkembangan diplomatik maupun militer di kawasan Timur Tengah dalam beberapa hari ke depan.
Baca berita internasional, geopolitik, dan ekonomi global terbaru hanya di JurnalLugas.Com.
(Dahlan)






