JurnalLugas.Com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menegaskan ambisi besar Washington di sektor energi. Dalam rapat umum di Dallas, Texas, Rabu malam, 9 September 2026, Trump menyebut Amerika Serikat kini menjadi produsen minyak terbesar di dunia.
Pernyataan itu disampaikan Trump sambil menyinggung Venezuela yang memiliki salah satu cadangan minyak terbesar di dunia. Menurutnya, posisi Amerika bahkan belum memperhitungkan tambahan cadangan yang berkaitan dengan Venezuela.
“Sekarang kami yang terbesar di dunia,” kata Trump, seraya menyinggung masuknya Venezuela dalam perhitungan cadangan Amerika.
Sorotan utama muncul setelah Gedung Putih mengumumkan kesepakatan energi dengan North American Blue Energy Partners (NABEP).
Dalam skema tersebut, Office of Strategic Capital di bawah Departemen Pertahanan AS akan memperoleh 35 persen saham ekuitas perusahaan induk NABEP.
Pemerintah Amerika juga disebut mendapatkan hak untuk membeli 20 persen hasil produksi berdasarkan biaya produksinya. Skema tersebut membuat sektor energi Venezuela berada dalam perhatian besar Washington.
Gedung Putih menyebut NABEP telah memperoleh konsesi yang mencakup 17 ladang minyak dengan masa berlaku hingga 100 tahun.
Namun, terdapat perbedaan keterangan mengenai durasi kesepakatan. Penjabat Presiden Venezuela Delcy Rodriguez sebelumnya menyebut perjanjian tersebut berlaku selama 25 tahun.
Nilai ekonominya juga tidak kecil. Gedung Putih memperkirakan royalti dan pajak dari kesepakatan tersebut dapat mencapai sekitar 200 miliar dolar AS atau sekitar Rp3.517 triliun dalam 25 tahun pertama.
Dana itu disebut akan diarahkan untuk membantu pembangunan kembali Venezuela sekaligus membiayai pengembangan sektor sosial.
Klaim Trump dan kesepakatan tersebut menunjukkan bahwa minyak Venezuela bukan hanya persoalan energi, tetapi juga menjadi bagian penting dari kepentingan ekonomi dan strategis Amerika Serikat.
Dengan cadangan minyak Venezuela yang sangat besar, perkembangan kerja sama tersebut berpotensi mengubah peta kekuatan energi di kawasan sekaligus memperkuat posisi Washington dalam mengendalikan sumber daya strategis.
Baca berita lainnya
JurnalLugas.Com
JurnalLugas.Com
(Handoko)






