JurnalLugas.Com — Harga minyak dunia kembali bergerak menguat pada perdagangan Rabu, 12 Agustus 2026. Kenaikan terjadi ketika pasar energi masih dibayangi risiko keamanan di kawasan Timur Tengah serta belum adanya titik terang dalam upaya mengakhiri perang Iran.
Meski demikian, penguatan harga minyak tidak berlangsung agresif. Pasar masih menghadapi tekanan dari sejumlah proyeksi yang menunjukkan pertumbuhan konsumsi minyak dunia pada 2026 berpotensi lebih rendah dari perkiraan sebelumnya.
Kontrak minyak mentah Brent tercatat mengakhiri perdagangan dengan kenaikan tipis 7 sen menjadi USD88,98 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat juga naik 7 sen dan ditutup pada level USD83,27 per barel.
Pergerakan tersebut menunjukkan investor masih berhati-hati dalam membaca arah pasar energi. Di satu sisi, meningkatnya gangguan keamanan terhadap kapal di kawasan Timur Tengah menimbulkan kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi minyak dan jalur perdagangan.
Di sisi lain, prospek permintaan global menjadi faktor yang membatasi ruang kenaikan harga. Sejumlah lembaga menurunkan perkiraan pertumbuhan permintaan minyak dunia untuk 2026, sehingga pasar tidak sepenuhnya merespons risiko geopolitik dengan aksi beli besar-besaran.
Sentimen geopolitik kembali menguat setelah sumber senior Iran menyebut belum terdapat pembicaraan antara Teheran dan Washington mengenai perpanjangan gencatan senjata.
Keterangan tersebut menambah ketidakpastian bagi pasar karena investor masih menunggu arah hubungan Iran dan Amerika Serikat di tengah konflik yang belum sepenuhnya mereda.
Menurut sumber tersebut, Iran berpandangan tidak ada alasan membicarakan perpanjangan gencatan senjata karena kesepakatan yang ada tidak menetapkan tanggal dimulainya masa gencatan.
“Belum ada pembicaraan untuk memperpanjang gencatan senjata,” kata sumber senior Iran tersebut secara singkat.
Situasi ini menjadi perhatian pasar minyak karena perkembangan konflik di kawasan Timur Tengah dapat berdampak langsung terhadap jalur pelayaran, distribusi energi, hingga persepsi investor terhadap risiko pasokan.
Serangan terhadap kapal yang terus terjadi juga membuat faktor keamanan maritim kembali menjadi salah satu penentu penting dalam pergerakan harga minyak.
Setiap gangguan terhadap jalur perdagangan strategis berpotensi meningkatkan biaya pengiriman dan menimbulkan kekhawatiran mengenai kelancaran pasokan energi.
Namun, pasar tidak hanya melihat sisi geopolitik. Perkiraan permintaan menjadi penyeimbang yang membuat kenaikan harga minyak tetap terbatas. Jika pertumbuhan konsumsi global melambat, tekanan terhadap harga minyak dapat muncul meskipun risiko pasokan meningkat.
Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar kini mencermati dua faktor utama secara bersamaan: perkembangan konflik Iran serta arah permintaan minyak dunia sepanjang 2026.
Harga Brent yang berada di dekat USD89 per barel dan WTI di atas USD83 per barel menunjukkan pasar masih memberikan premi risiko terhadap situasi Timur Tengah.
Perubahan kecil dalam perkembangan diplomatik maupun keamanan dapat dengan cepat memengaruhi sentimen perdagangan komoditas energi.
Untuk sementara, harga minyak masih bergerak dalam ruang yang relatif terbatas. Investor tampaknya menunggu kepastian lebih lanjut mengenai konflik Iran sekaligus perkembangan terbaru mengenai permintaan minyak global sebelum menentukan arah perdagangan berikutnya.
Baca terus perkembangan harga komoditas dan ekonomi global hanya di JurnalLugas.Com.
(Endarto)






