JurnalLugas.Com – Situasi keamanan di Lebanon selatan kembali menjadi perhatian setelah Pasukan Sementara PBB di Lebanon atau UNIFIL melaporkan peningkatan tajam aktivitas militer Israel sepanjang 5 hingga 16 Agustus 2026.
UNIFIL menyebut intensitas serangan meningkat secara nyata dalam dua pekan terakhir. Berdasarkan pemantauan pasukan perdamaian PBB tersebut, rata-rata tercatat 137 proyektil per hari selama periode tersebut.
Lonjakan aktivitas bahkan terlihat pada akhir pekan. UNIFIL mencatat sekitar 208 proyektil pada Sabtu dan kembali mencatat 185 proyektil pada Minggu.
Dalam keterangannya, UNIFIL menilai eskalasi tersebut memberikan dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat sipil di Lebanon selatan. Warga di sejumlah wilayah harus meninggalkan tempat tinggal mereka atau menyesuaikan aktivitas sehari-hari karena kondisi keamanan yang terus berubah.
Peningkatan serangan ini terjadi di tengah situasi yang masih rentan di sepanjang wilayah perbatasan Lebanon selatan. Aktivitas militer yang meningkat membuat keberadaan pasukan penjaga perdamaian PBB tetap menjadi bagian penting dalam pemantauan kondisi di lapangan.
UNIFIL mengatakan pasukannya tetap menjalankan sejumlah tugas meski situasi keamanan mengalami tekanan. Patroli terus dilakukan untuk memantau perkembangan, sementara personel juga berupaya membersihkan jalur serta mengurangi risiko dari bahan peledak yang dapat membahayakan masyarakat.
Selain tugas keamanan, pasukan PBB juga membantu memperlancar akses bantuan kemanusiaan bagi masyarakat yang terdampak situasi tersebut.
UNIFIL merupakan misi penjaga perdamaian PBB yang memiliki sejarah panjang di Lebanon. Mandatnya pertama kali dibentuk oleh Dewan Keamanan PBB pada 1978 setelah invasi Israel ke Lebanon.
Mandat tersebut kembali diperpanjang pada Agustus 2025 dan berlaku hingga 31 Desember 2026. Setelah masa mandat berakhir, misi UNIFIL direncanakan memasuki tahap penarikan pasukan secara bertahap selama sekitar satu tahun.
Saat ini, lebih dari 10.000 personel dari sekitar 50 negara masih tergabung dalam misi penjaga perdamaian tersebut.
Peningkatan serangan yang dicatat UNIFIL menjadi gambaran terbaru mengenai tingginya ketegangan di Lebanon selatan. Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak, eskalasi militer bukan sekadar persoalan angka proyektil, tetapi juga berkaitan langsung dengan keamanan, tempat tinggal, serta akses terhadap kebutuhan dasar.
Perkembangan situasi di lapangan masih menjadi perhatian karena perubahan intensitas aktivitas militer dapat kembali memengaruhi kondisi kemanusiaan dan keamanan warga sipil.
JurnalLugas.Com terus menghadirkan informasi internasional secara lugas, berimbang, dan mudah dipahami pembaca.
JurnalLugas.Com
(Dahlan)






