Terungkap Pekerjaan Susanah Usai Disebut Prabowo Kupas Bawang Rp700 ribu per kilo

JurnalLugas.Com — Nama Susanah, perempuan berusia 38 tahun asal Kampung Ciuncal, Desa Situsari, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mendadak menjadi perhatian publik setelah disebut Presiden Prabowo Subianto dalam pidato kenegaraan di Gedung Nusantara, Jumat (14/8/2026).

Susanah hadir dalam agenda kenegaraan tersebut sebagai salah satu warga yang kisah kehidupannya disampaikan Presiden. Namun, setelah pidato berlangsung, muncul perbincangan mengenai pekerjaan dan besaran penghasilan yang disebutkan Prabowo.

Bacaan Lainnya

Keluarga Susanah kemudian memberikan penjelasan untuk meluruskan informasi tersebut.

Kakak ipar Susanah, Wina, mengatakan Susanah memang bekerja di lingkungan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Perempuan tiga anak itu sudah sekitar tujuh bulan bekerja di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) kawasan Bojong.

Di tempat tersebut, Susanah bertugas sebagai petugas ompreng. Pekerjaan itu menjadi salah satu aktivitas yang dijalaninya selain pekerjaan menjahit kain lap majun dari rumah.

“Sudah sekitar tujuh bulan bekerja di SPPG. Pekerjaan utamanya menjahit lap majun,” kata Wina, Senin 17 Agustus 2026.

Keterangan keluarga menunjukkan keseharian Susanah cukup padat. Selain membantu operasional SPPG, ia tetap menerima pekerjaan menjahit kain lap majun untuk menopang kebutuhan rumah tangga.

Susanah diketahui memiliki tiga anak. Anak pertamanya baru menyelesaikan pendidikan, sementara dua anak lainnya masih bersekolah. Suaminya bekerja sebagai buruh bangunan.

Di tengah kondisi tersebut, pekerjaan menjahit menjadi bagian penting dari penghasilan keluarga. Aktivitas itu bahkan terlihat langsung di rumah Susanah. Mesin jahit dan tumpukan kain majun menjadi bagian dari suasana kediamannya di Cileungsi.

Angka Rp700 Bukan Rp700 Ribu

Salah satu bagian yang paling ramai dibicarakan setelah pidato Presiden adalah mengenai nominal Rp700.000 per kilogram.

Dalam pidatonya, Prabowo memperkenalkan Susanah sebagai buruh harian yang mengupas bawang dengan upah sekitar Rp700.000 per kilogram. Presiden juga mengaitkan kehidupan keluarganya dengan manfaat Program Keluarga Harapan (PKH) dan Program Sembako.

Pernyataan itu kemudian menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat, terutama mengenai angka upah yang disebut sangat besar untuk pekerjaan tersebut.

Keluarga Susanah membantah bahwa perempuan tersebut menerima Rp700.000 untuk setiap kilogram bawang yang dikupas.

Wina menjelaskan, angka Rp700 yang berkaitan dengan pekerjaan Susanah sebenarnya merupakan tarif menjahit kain lap majun. Tarif tersebut dihitung berdasarkan berat kain yang dikerjakan.

“Itu bukan Rp700 ribu per kilogram bawang. Rp700 adalah upah menjahit lap majun per kilogram,” ujar Wina.

Menurut keterangan keluarga, Susanah dapat menyelesaikan sekitar 20 kilogram kain lap majun dalam sehari. Dengan tarif tersebut, penghasilan dari pekerjaan menjahitnya berada di kisaran Rp14.000 per hari.

Penjelasan tersebut sekaligus menjadi klarifikasi atas informasi mengenai pekerjaan Susanah yang terlanjur menyebar dan menjadi bahan perbincangan di media sosial.

Anak Susanah Ikut Memberikan Klarifikasi

Perbincangan mengenai Susanah juga mendorong seseorang yang mengaku sebagai anaknya untuk memberikan penjelasan melalui media sosial.

Dalam keterangannya, akun tersebut menyebut Susanah sendiri merasa terkejut ketika mendengar dirinya diperkenalkan sebagai pengupas bawang.

Anak Susanah menegaskan pekerjaan ibunya adalah menjahit kain lap, sementara aktivitas di SPPG merupakan pekerjaan lain yang telah dijalani selama beberapa bulan.

Ia juga menyampaikan bahwa Susanah menerima undangan menghadiri acara kenegaraan karena menganggap kesempatan tersebut sebagai sebuah rezeki.

Terlepas dari polemik mengenai penyebutan pekerjaan, kehadiran Susanah dalam agenda kenegaraan membuat kehidupan sehari-harinya ikut menjadi perhatian.

Perempuan yang selama ini menjalani aktivitas sederhana di Cileungsi tersebut tiba-tiba menjadi sorotan setelah namanya disebut langsung oleh Presiden.

Susanah tinggal bersama keluarganya di kawasan permukiman padat penduduk. Rumah yang ditempatinya tidak berukuran besar. Di bagian depan terdapat kanopi dengan penyangga kayu, sementara aktivitas menjahit terlihat dari keberadaan mesin jahit serta tumpukan kain majun.

Kisah Susanah pada akhirnya memperlihatkan sisi lain dari kehidupan pekerja berpenghasilan terbatas yang harus menjalani lebih dari satu pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Di satu sisi, ia bekerja di SPPG yang berkaitan dengan program MBG. Di sisi lain, ia tetap mengandalkan keterampilan menjahit untuk mendapatkan tambahan penghasilan dari rumah.

Baca berita dan informasi terbaru lainnya hanya di JurnalLugas.Com.
JurnalLugas.Com

(Bowo)

Tombol Google News - JurnalLugas
Baca Juga  Prabowo Subianto Ada Kelompok Berambisi Membeli Kekuasaan

Pos terkait