JurnalLugas.Com — Iran mengklaim kapasitas produksi senjata dan peralatan pertahanannya meningkat tajam dalam satu tahun terakhir. Pemerintah Teheran menyebut produksi sektor pertahanan kini mencapai dua kali lipat dibandingkan periode sebelumnya.
Wakil Menteri Pertahanan Iran Reza Talaei-Nik mengatakan peningkatan tersebut terjadi sejak berlangsungnya konflik yang disebut Iran sebagai Perang Dua Belas Hari. Periode yang dimaksud berlangsung dari Juni tahun lalu hingga Juni tahun ini.
“Produksi senjata dan peralatan pertahanan meningkat dua kali lipat dalam satu tahun,” kata Talaei-Nik, Sabtu, 22 Agustus 2026.
Pernyataan tersebut muncul ketika hubungan Iran dan Amerika Serikat kembali berada dalam kondisi tegang. Sebelumnya, kedua negara sempat mencapai kesepahaman untuk mengakhiri konflik, tetapi situasi kemudian kembali berubah setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata tidak lagi berlaku.
Ketegangan selanjutnya berkembang menjadi aksi saling serang. Amerika Serikat menyebut serangannya berkaitan dengan tindakan Iran terhadap kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz. Iran kemudian merespons dengan serangan terhadap sejumlah pangkalan AS di kawasan Timur Tengah.
Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling sensitif dalam perkembangan konflik. Iran sempat mengumumkan penutupan jalur tersebut sebagai respons terhadap keterlibatan Amerika Serikat. Washington kemudian menyatakan akan mengambil peran sebagai penjaga jalur pelayaran itu.
Di tengah eskalasi tersebut, pemerintahan Trump juga meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran. Washington menilai Iran telah melewatkan kesempatan untuk mencapai kesepakatan baru.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi justru menilai langkah Amerika Serikat tidak akan menyelesaikan persoalan. Ia menyebut tekanan tersebut berpotensi membuat Washington menghadapi kerugian yang lebih besar.
Klaim peningkatan produksi senjata Iran menjadi sinyal bahwa Teheran terus memperkuat kemampuan pertahanannya di tengah ketidakpastian hubungan dengan Amerika Serikat.
Perkembangan ini juga berpotensi memengaruhi situasi keamanan di Timur Tengah, terutama di kawasan strategis Selat Hormuz.
Baca perkembangan berita internasional dan geopolitik terbaru di JurnalLugas.Com.
(Dahlan)






