Harga Minyak Dunia Bisa Tembus di Atas USD90, Konflik AS-Iran Jadi Pemicu

JurnalLugas.Com – Harga minyak dunia diperkirakan masih bergerak pada level tinggi sepanjang pekan ini. Konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali menjadi perhatian utama pasar karena berpotensi mengganggu distribusi energi dari kawasan Timur Tengah.

Harga Brent bahkan sempat berada di kisaran USD96 per barel pada awal perdagangan Senin, 7 September 2026. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bergerak di atas USD92 per barel. Kenaikan tersebut melanjutkan penguatan tajam yang terjadi pada pekan sebelumnya.

Bacaan Lainnya

Pasar kini tidak hanya mencermati serangan antara AS dan Iran, tetapi juga perkembangan lalu lintas kapal tanker di kawasan Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan salah satu pintu penting bagi perdagangan minyak dunia sehingga gangguan berkepanjangan dapat memperketat pasokan dan mendorong harga semakin tinggi.

Baca Juga  Harga Minyak Dunia Terkoreksi, Pasar Beralih Fokus ke Stabilitas Pasokan Global

Kekhawatiran itu membuat pelaku pasar memasukkan premi risiko geopolitik ke dalam harga minyak. Artinya, semakin besar kemungkinan konflik meluas dan menghambat pengiriman energi, semakin kuat pula tekanan kenaikan harga minyak.

Sejumlah analis bahkan menilai harga minyak masih memiliki ruang untuk bertahan di atas USD90 selama ketegangan belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Pada perdagangan pekan lalu, Brent naik sekitar 7,6 persen, sedangkan WTI melonjak hampir 10 persen.

Kondisi ini menjadi perhatian karena kenaikan minyak dapat merembet ke biaya transportasi, energi, hingga harga berbagai kebutuhan lainnya. Jika berlangsung lama, tekanan tersebut juga berpotensi memperbesar kekhawatiran terhadap inflasi global.

Baca Juga  Harga Minyak Brent & WTI Anjlok OPEC+ Siap Tambah Produksi per Agustus

Bagi pasar keuangan, situasinya menjadi semakin rumit. Investor harus menghadapi kombinasi antara risiko geopolitik, harga energi yang tinggi dan kemungkinan perubahan arah kebijakan suku bunga bank sentral.

Dengan konflik AS-Iran yang belum menunjukkan penyelesaian jelas, pasar minyak diperkirakan masih akan sangat sensitif terhadap setiap perkembangan dari Timur Tengah.

Pergerakan harga dalam beberapa hari ke depan akan sangat bergantung pada apakah jalur pasokan energi tetap berjalan atau kembali mengalami gangguan.

Baca berita lainnya
JurnalLugas.Com

(Endarto)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait