JurnalLugas.Com — Harga minyak dunia mengakhiri perdagangan pekan lalu dalam tekanan. Setelah mencatat penurunan cukup dalam selama sepekan, pelaku pasar kini memilih menahan langkah sambil mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah.
Pada perdagangan Jumat, 28 Agustus 2026, minyak mentah Brent ditutup turun 0,43 persen ke level USD89,31 per barel. Minyak West Texas Intermediate (WTI) juga melemah 0,16 persen menjadi USD83,40 per barel.
Jika dihitung sepanjang pekan, penurunan Brent mencapai lebih dari 5 persen. Sementara WTI terkoreksi lebih dari 4 persen.
Pergerakan tersebut menunjukkan pasar minyak mulai merespons perubahan ekspektasi terhadap risiko pasokan global. Salah satu perhatian terbesar saat ini tertuju pada Selat Hormuz, jalur penting bagi lalu lintas minyak dunia.
Pelaku pasar menunggu kepastian apakah kondisi keamanan di kawasan tersebut akan memungkinkan aktivitas pelayaran kembali berjalan lebih normal. Jika jalur distribusi berangsur pulih, tekanan terhadap harga minyak berpotensi berlanjut.
Sebaliknya, ketegangan yang kembali meningkat dapat dengan cepat mengubah sentimen pasar karena Selat Hormuz memiliki posisi strategis dalam perdagangan energi dunia.
Analis pasar menilai situasi saat ini masih sangat bergantung pada perkembangan geopolitik. Karena itu, setelah mengalami koreksi tajam, harga minyak diperkirakan bergerak dalam pola hati-hati hingga pasar mendapatkan sinyal yang lebih jelas mengenai kondisi pasokan dan pelayaran.
Bagi konsumen dan pelaku usaha, arah harga minyak dunia tetap penting karena perubahan harga energi dapat ikut memengaruhi biaya transportasi, distribusi barang, hingga tekanan inflasi.
Perkembangan Selat Hormuz dalam beberapa hari ke depan pun menjadi salah satu faktor yang layak diperhatikan sebelum pasar menentukan arah berikutnya.
Baca berita ekonomi dan perkembangan terkini lainnya di JurnalLugas.Com.
(Endarto)






