JurnalLugas.Com – Iran bersiap menetapkan zona maritim baru di luar Selat Hormuz. Kawasan yang disebut sebagai zona terbatas itu rencananya mulai diberlakukan dalam beberapa hari mendatang dan akan menjadi bagian dari pengawasan ketat Teheran terhadap jalur pelayaran strategis tersebut.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei mengatakan kapal yang memasuki zona tersebut akan menghadapi konsekuensi berupa pencantuman dalam daftar sanksi Iran.
Menurut Rezaei, wilayah terbatas itu akan dimulai dari garis blokade Angkatan Laut Amerika Serikat dan meluas ke sejumlah kawasan di Teluk.
“Setiap kapal yang masuk akan dikenai sanksi,” kata Rezaei dalam wawancara televisi pemerintah Iran.
Iran juga disebut tengah menyiapkan kesepakatan dengan Oman terkait koridor baru di Selat Hormuz. Dalam skema tersebut, titik masuk dan keluar jalur pelayaran akan berada di bawah kendali Iran.
Rezaei menegaskan bahwa Teheran menganggap Selat Hormuz berada sepenuhnya dalam kendali angkatan bersenjata Iran. Pernyataan itu sekaligus menjadi bantahan terhadap klaim bahwa jalur perdagangan tersebut masih terbuka secara normal.
Situasi pelayaran di kawasan tersebut kini jauh berbeda dibandingkan sebelum penutupan. Rezaei menyebut sebelumnya lebih dari 100 kapal dengan total muatan lebih dari 100 juta ton melintas setiap hari.
Saat ini, menurut klaim Iran, hanya beberapa kapal yang membawa kebutuhan pokok untuk masyarakat Iran yang masih melewati jalur tersebut.
Iran juga menuduh Amerika Serikat berupaya mengirim kapal melalui kawasan yang dibatasi. Rezaei mengklaim sejumlah kapal mengalami serangan, tetapi Iran memilih tidak menenggelamkannya karena muatan minyak dikhawatirkan menimbulkan kerusakan lingkungan.
Di tengah ketegangan tersebut, Rezaei turut mengklaim Iran telah menguji rudal antikapal baru terhadap kapal perang Amerika Serikat. Namun, ia tidak mengungkap nama kapal maupun lokasi pengujian sehingga klaim tersebut belum disertai rincian yang dapat diverifikasi secara independen.
Teheran juga membantah dampak blokade ekonomi Amerika Serikat telah menyebabkan kelaparan besar di Iran. Pemerintah Iran menyatakan persediaan pangan dan kebutuhan pokok telah disiapkan untuk menghadapi tekanan ekonomi.
Ketegangan Iran dan Amerika Serikat semakin meningkat setelah konflik militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dimulai pada 28 Februari. Iran kemudian merespons dengan serangan rudal dan drone terhadap Israel serta kepentingan Amerika Serikat di kawasan.
Sebelumnya, Iran dan Amerika Serikat juga sempat mencapai nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan dan Qatar. Kesepakatan tersebut mencakup upaya mengakhiri permusuhan, membuka kembali Selat Hormuz serta meredakan tekanan ekonomi.
Namun, kedua pihak kemudian saling menuduh melanggar komitmen. Perselisihan mengenai sanksi, keamanan kawasan dan akses pelayaran membuat Selat Hormuz kembali menjadi titik panas yang berpotensi memengaruhi perdagangan energi dunia.
Baca berita lainnya
JurnalLugas.Com
(Dahlan)






