JurnalLugas.Com — Asam urat tinggi sering kali tidak langsung menimbulkan keluhan yang jelas. Seseorang dapat memiliki kadar asam urat dalam darah yang meningkat tanpa merasakan nyeri atau perubahan berarti pada tubuh.
Kondisi tersebut dikenal sebagai hiperurisemia. Asam urat terbentuk ketika tubuh memecah purin, kemudian sebagian besar zat tersebut dibuang melalui ginjal bersama urine. Masalah muncul ketika tubuh memproduksi terlalu banyak asam urat atau ginjal tidak mampu membuangnya secara optimal.
Karena itu, tidak sedikit orang baru mengetahui kadar asam uratnya setelah melakukan pemeriksaan darah atau ketika mulai mengalami gangguan pada persendian.
Mayo Clinic menjelaskan bahwa kadar asam urat tinggi tidak selalu menimbulkan gejala. Namun, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko terbentuknya kristal asam urat yang kemudian memicu gout atau masalah lain seperti batu ginjal.
Gejala yang Perlu Diperhatikan
Salah satu tanda yang paling dikenal adalah munculnya nyeri pada persendian. Keluhan biasanya terjadi secara tiba-tiba dan dapat terasa sangat kuat, terutama pada jempol kaki. Namun, gout juga dapat menyerang pergelangan kaki, lutut, siku, pergelangan tangan, hingga jari tangan.
Sendi yang terkena dapat mengalami pembengkakan, terasa panas, kemerahan, serta sangat sensitif ketika disentuh. Pada serangan tertentu, rasa sakit bahkan bisa muncul pada malam hari dan membuat penderitanya sulit beristirahat.
Masalahnya, keluhan tersebut kadang datang setelah kadar asam urat sudah lama meningkat. Di antara serangan, seseorang bisa kembali merasa normal sehingga menganggap persoalan sudah selesai.
Padahal, serangan gout dapat berulang. Jika tidak ditangani, frekuensinya dapat meningkat dan dalam jangka panjang kristal asam urat dapat menumpuk membentuk benjolan keras yang disebut tofi. Kondisi tersebut juga dapat merusak persendian.
Tidak Selalu Berupa Nyeri Sendi
Kesalahpahaman yang cukup sering terjadi adalah menganggap setiap orang dengan asam urat tinggi pasti merasakan sakit pada kaki.
Faktanya, kadar asam urat yang tinggi bisa berlangsung tanpa gejala. Karena itu, tidak tepat menjadikan rasa nyeri sebagai satu-satunya patokan untuk mengetahui kadar asam urat dalam tubuh. Pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk memastikan kondisi sebenarnya.
Pada sebagian orang, masalah juga dapat berkaitan dengan ginjal. Kristal atau batu yang terbentuk di saluran kemih dapat menimbulkan nyeri pada sisi tubuh atau pinggang, nyeri saat buang air kecil, darah dalam urine, mual, hingga muntah. Namun, keluhan tersebut tidak otomatis berarti disebabkan oleh asam urat karena batu ginjal memiliki berbagai penyebab.
Siapa yang Perlu Lebih Waspada?
Risiko kadar asam urat meningkat dapat dipengaruhi berbagai faktor. Berat badan berlebih, gangguan fungsi ginjal, tekanan darah tinggi, diabetes, konsumsi alkohol, serta pola makan tertentu dapat berkaitan dengan meningkatnya risiko hiperurisemia dan gout.
Makanan dan minuman tertentu juga perlu diperhatikan, terutama konsumsi berlebihan makanan tinggi purin, daging merah, jeroan, beberapa jenis makanan laut, alkohol, serta minuman tinggi gula atau fruktosa.
Namun, pola makan bukan satu-satunya faktor. Kondisi tubuh dan kemampuan ginjal membuang asam urat juga berperan. Karena itu, seseorang yang sudah menjaga makanan tetap dapat memiliki kadar asam urat tinggi.
Kapan Sebaiknya Memeriksakan Diri?
Nyeri sendi yang muncul tiba-tiba, terutama jika disertai pembengkakan, panas, kemerahan, dan sulit digerakkan, sebaiknya tidak diabaikan. Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan apakah keluhan tersebut benar berkaitan dengan gout atau justru disebabkan kondisi lain.
Terlebih jika nyeri sendi disertai demam. Kondisi tersebut membutuhkan perhatian medis karena infeksi pada sendi juga dapat menimbulkan gejala yang menyerupai serangan gout.
Pada akhirnya, gejala asam urat tinggi memang tidak selalu terlihat. Justru karena dapat berlangsung tanpa keluhan, pemeriksaan menjadi penting bagi orang yang memiliki faktor risiko atau pernah mengalami serangan nyeri sendi yang mencurigakan.
Menjaga berat badan, cukup minum, aktif bergerak, memperhatikan pola makan, dan membatasi konsumsi alkohol serta minuman tinggi gula dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kadar asam urat tetap terkendali.
Jika kadar asam urat sudah tinggi atau serangan gout berulang, penanganannya sebaiknya dibicarakan dengan tenaga medis agar tidak hanya mengandalkan perubahan pola makan.
Baca berita lainnya
JurnalLugas.Com
(Wening)






