JurnalLugas.Com – Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) mencoba cara berbeda dalam menyampaikan aspirasi bersama mahasiswa dan masyarakat sipil di kawasan Tugu Tani, Jakarta Pusat, Selasa (20/10/2026).
Aksi kali ini berlangsung dengan pendekatan lebih cair, tanpa mengenakan almamater dan tidak menjadikan orasi sebagai pusat kegiatan.
Perubahan pola tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa menguji bentuk demonstrasi yang berbeda dari aksi-aksi sebelumnya.
Selain memberi ruang bagi model penyampaian aspirasi yang lebih fleksibel, pendekatan ini juga diarahkan untuk mengantisipasi potensi provokasi di antara peserta.
Wakil Ketua BEM UI 2026, Fathimah Azzahra, mengakui bahwa menjalankan aksi dengan pola berbeda memiliki tantangan tersendiri.
Karena itu, mahasiswa telah menyiapkan mekanisme untuk menjaga situasi agar tidak mudah terpecah oleh provokasi.
Fathimah menjelaskan, pendekatan yang digunakan kali ini tidak terlalu bertumpu pada komando terpusat. Setiap elemen mahasiswa diminta datang langsung ke lokasi sehingga peserta dapat berkumpul tanpa harus bergantung pada satu jalur koordinasi.
Menurut dia, perubahan tersebut sekaligus menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana aksi berlangsung ketika atribut almamater dan rangkaian orasi tidak lagi mendominasi kegiatan.
“Ini memang salah satu bentuk kita untuk mencoba juga bagaimana sih kalau seandainya tidak memakai almamater, nggak ada orasi dan sebagainya,” ujar Fathimah.
Jumlah peserta yang lebih sedikit dibandingkan demonstrasi sebelumnya turut menjadi pertimbangan dalam penerapan model tersebut.
Meski demikian, aksi tetap melibatkan sejumlah kelompok mahasiswa dan masyarakat sipil yang membawa tuntutan terkait persoalan lingkungan, ekonomi, demokrasi, pemberantasan korupsi, hingga pendidikan.
Selain BEM UI, mahasiswa dari IPB University dan UIN Syarif Hidayatullah juga terlihat hadir di kawasan Tugu Tani.
Dalam aksi itu, peserta menyampaikan lima tuntutan utama. Mereka mendesak pemerintah menetapkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai bencana nasional sekaligus melakukan pemulihan ekosistem.
Tuntutan berikutnya menyasar pembenahan tata kelola ekonomi untuk mengatasi ketimpangan sosial.
Massa juga meminta penghentian penyempitan ruang sipil dan militerisasi, pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), serta penurunan biaya pendidikan dengan membangun sistem pendidikan yang berpihak kepada rakyat.
Aksi di Tugu Tani tersebut memperlihatkan upaya mahasiswa mencoba pendekatan penyampaian aspirasi yang tidak sepenuhnya bergantung pada atribut organisasi dan orasi terbuka.
Di tengah perubahan pola itu, lima tuntutan yang dibawa tetap menjadi inti pesan mahasiswa dan masyarakat sipil kepada pemerintah.
Baca berita lainnya di JurnalLugas.Com
(Soefriyanto news)





