JurnalLugas.Com — Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance memilih tidak memberikan dukungan terbuka kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menjelang pemilihan umum Israel pada 27 Oktober 2026. Sikap tersebut berbeda dengan Presiden AS Donald Trump yang sehari sebelumnya secara terbuka menyatakan dukungan kepada pemimpin Israel itu.
Vance menegaskan dirinya tidak ingin terlibat dalam kontestasi politik di negara lain. Ia memilih memusatkan perhatian pada pemilihan paruh waktu Amerika Serikat yang menjadi agenda penting bagi Partai Republik.
Dalam wawancara dengan jurnalis Mark Halperin pada Senin, sebagaimana diberitakan Al Jazeera, Rabu (21/10/2026), Vance menyatakan tidak berpihak kepada Netanyahu maupun menentangnya.
“Saya memilih tidak terlibat dalam pemilu Israel,” kata Vance, seraya menegaskan bahwa fokus politiknya berada pada pemilihan di Amerika Serikat.
Pernyataan itu muncul ketika dukungan Washington terhadap Netanyahu menjadi bagian dari perhatian menjelang pemungutan suara di Israel. Trump selama ini membangun hubungan dekat dengan Netanyahu dan pemerintahannya, termasuk melalui kebijakan diplomatik dan militer yang memperkuat hubungan kedua negara.
Sikap Vance Berbeda dengan Trump
Selama masa kepemimpinannya, Trump mengambil sejumlah kebijakan yang mempererat hubungan AS-Israel. Di antaranya pemindahan Kedutaan Besar AS ke Yerusalem Barat, pengakuan atas klaim Israel terhadap Dataran Tinggi Golan, serta penarikan AS dari kesepakatan nuklir Iran 2015.
Pada masa jabatan keduanya yang dimulai Januari 2025, pemerintahan Trump juga melanjutkan dukungan persenjataan kepada Israel di tengah perang di Gaza dan meningkatnya ketegangan kawasan, termasuk konflik dengan Iran.
Vance tidak menyatakan akan memutus dukungan AS kepada Israel. Namun, dalam sejumlah pernyataan sebelumnya, ia menunjukkan pendekatan yang menekankan pertimbangan kepentingan nasional AS dan memperingatkan agar tindakan militer tidak menjadi satu-satunya jalan menghadapi persoalan keamanan.
Pada Juni lalu, Vance mengkritik pendekatan yang mengandalkan kekuatan militer untuk menyelesaikan setiap persoalan keamanan.
“Tidak semua persoalan keamanan nasional bisa diselesaikan dengan membunuh,” ujarnya saat menyampaikan kritik terhadap pendekatan militer Israel.
Ia juga memperingatkan kabinet Netanyahu agar tidak mengambil langkah yang berisiko menjauhkan Trump dari Israel.
Sikap tersebut membuat posisi Vance menjadi perhatian di tengah perdebatan internal Partai Republik mengenai sejauh mana Amerika Serikat harus mendukung kebijakan Israel.
Vance sendiri dipandang sebagai salah satu figur potensial dalam persaingan politik nasional AS pada 2028, meskipun fokus yang ia sampaikan saat ini adalah pemilihan paruh waktu.
Di Israel, dukungan terbuka Trump belum tentu menentukan hasil pemilihan umum. Sejumlah jajak pendapat yang disebut dalam laporan sumber menunjukkan kehati-hatian sebagian pemilih Israel terhadap Trump, terutama terkait persepsi bahwa Washington berusaha membatasi operasi militer Israel di Lebanon dan mencegah eskalasi konflik dengan Iran.
Partai Likud yang dipimpin Netanyahu menghadapi persaingan dengan kubu oposisi. Partai Yashar, yang dipimpin mantan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel Gadi Eisenkot, dilaporkan unggul dalam sejumlah survei menjelang pemungutan suara.
Eisenkot menyatakan akan berupaya membentuk blok oposisi untuk membangun pemerintahan. Meski demikian, hasil jajak pendapat tidak dengan sendirinya memastikan hasil akhir pemilu.
Perbedaan sikap Trump dan Vance memperlihatkan bahwa dukungan terhadap Israel bukan berarti seluruh pejabat AS mengambil pendekatan politik yang sama.
Menjelang pemilu Israel, Vance memilih menjaga jarak dari persaingan tersebut, sementara Trump secara terbuka menyampaikan dukungannya kepada Netanyahu.
Baca berita lainnya di JurnalLugas.Com
(Dahlan)






