JurnalLugas.Com — PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) mencatatkan kerugian bersih hingga September 2026, meskipun sejumlah indikator operasional perusahaan menunjukkan perbaikan.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa peningkatan kinerja bisnis belum sepenuhnya tercermin pada laba bersih perseroan.
Dalam laporan kinerja sembilan bulan pertama 2026, Bukalapak membukukan rugi bersih Rp885 miliar. Capaian tersebut berbalik dari laba Rp2,91 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Di sisi lain, perusahaan mencatat pendapatan Rp5,6 triliun sepanjang Januari hingga September 2026, meningkat 19 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Laba kotor juga naik menjadi Rp459 miliar dari sebelumnya Rp376 miliar.
Perbaikan terlihat pada EBITDA yang disesuaikan atau adjusted EBITDA. Indikator ini berbalik positif menjadi Rp11 miliar, setelah pada periode yang sama tahun lalu tercatat negatif Rp53 miliar.
Direktur Bukalapak, Victor Putra Lesmana, menyatakan bahwa perusahaan menjaga kinerja pendapatan sekaligus memperbaiki efisiensi operasional di tengah tantangan ekonomi global.
“Transformasi bisnis, peningkatan operasional, dan disiplin biaya” menjadi bagian penting dari upaya perusahaan mempertahankan kinerja, menurut Victor dalam keterangan resmi.
Bisnis Gaming Jadi Penopang Pendapatan
Segmen Gaming menjadi penyumbang pendapatan terbesar Bukalapak selama sembilan bulan pertama 2026. Bisnis ini menghasilkan pendapatan Rp4,9 triliun, meningkat 27 persen dibandingkan Rp3,9 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Laba kotor segmen Gaming juga naik menjadi Rp193 miliar dari Rp144 miliar. Sementara itu, adjusted EBITDA mencapai Rp48 miliar sepanjang Januari-September 2026.
Pada kuartal III-2026, pendapatan Gaming tercatat Rp1,4 triliun. Meski relatif stabil secara tahunan, laba kotor meningkat menjadi Rp65 miliar dari Rp49 miliar.
Kinerja tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan bisnis Bukalapak tidak hanya bergantung pada peningkatan pendapatan, tetapi juga pada kemampuan setiap segmen menghasilkan keuntungan operasional.
Mitra Bukalapak Alami Penurunan Pendapatan
Berbeda dengan Gaming, segmen Mitra Bukalapak mengalami penurunan pendapatan. Hingga September 2026, pendapatannya tercatat Rp487 miliar, turun 21 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun, laba kotor segmen ini meningkat menjadi Rp117 miliar dari Rp109 miliar. Adjusted EBITDA juga membaik dan berbalik positif Rp11 miliar.
Perkembangan tersebut memperlihatkan adanya perbaikan efisiensi meskipun pendapatan menyusut. Fokus pada produk dengan margin lebih tinggi menjadi salah satu faktor yang mendukung peningkatan profitabilitas segmen tersebut.
Sementara itu, bisnis investasi melalui BMoney membukukan pendapatan Rp69 miliar, tumbuh 54 persen secara tahunan. Adjusted EBITDA segmen ini masih negatif Rp2 miliar, tetapi membaik dibandingkan negatif Rp6 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Segmen Retail justru menghadapi tekanan. Pendapatannya turun menjadi Rp209 miliar dari Rp228 miliar, sedangkan laba kotor menyusut menjadi Rp85 miliar dari Rp94 miliar. Adjusted EBITDA tercatat negatif Rp8 miliar.
Kas Perusahaan Masih Menjadi Penopang
Di tengah kerugian bersih, Bukalapak memiliki kas, setara kas, dan investasi likuid sebesar Rp16,8 triliun per akhir September 2026.
Posisi likuiditas tersebut memberikan ruang bagi perusahaan untuk melanjutkan pengembangan bisnis. Namun, kemampuan mempertahankan sumber daya keuangan perlu diimbangi dengan perbaikan kinerja agar pertumbuhan operasional dapat mendukung profitabilitas secara berkelanjutan.
Bukalapak menyatakan akan melanjutkan pengembangan produk, memperbaiki pengalaman pengguna, serta menjaga disiplin biaya dan investasi.
Dengan pendapatan yang tumbuh dan adjusted EBITDA yang kembali positif, perusahaan menunjukkan kemajuan pada sisi operasional.
Baca berita lainnya di JurnalLugas.Com
(Hans)






