JurnalLugas.Com – PT Sat Nusapersada Tbk (PTSN) mencatat pertumbuhan pendapatan yang kuat pada semester I-2026. Namun, kenaikan penjualan tersebut belum diikuti perbaikan laba, seiring menyusutnya margin dan meningkatnya sejumlah beban perusahaan.
Perseroan membukukan pendapatan sebesar 182,28 juta dolar AS atau sekitar Rp3,2 triliun sepanjang Januari hingga Juni 2026. Angka ini meningkat 65,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 110,32 juta dolar AS.
Di tengah pertumbuhan tersebut, kondisi profitabilitas menjadi perhatian investor. Pasalnya, beban pokok pendapatan meningkat lebih cepat dan menekan laba kotor perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur elektronik tersebut.
Situasi ini juga menjadi pertimbangan dalam membaca valuasi saham PTSN, meskipun rasio harga saham terhadap nilai buku atau Price to Book Value (PBV) masih berada di bawah satu kali.
PBV di Bawah Satu Kali Bukan Jaminan Saham Murah
Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai rasio PBV tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar untuk menyimpulkan bahwa sebuah saham diperdagangkan di bawah nilai wajarnya.
Berdasarkan laporan keuangan per Juni 2026 dan asumsi harga saham Rp346 per lembar, estimasi PBV PTSN berada di kisaran 0,79 kali.
“PBV di bawah satu kali belum cukup untuk menyatakan saham PTSN undervalued,” ujar Herditya dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu (24/10/2026).
Menurut dia, investor perlu melihat kemampuan perusahaan mempertahankan margin keuntungan, meningkatkan laba, serta memperbaiki arus kas operasional sebelum menilai daya tarik valuasi sahamnya.
Pertimbangan tersebut menjadi penting karena pertumbuhan pendapatan yang tinggi tidak selalu mencerminkan peningkatan kualitas keuntungan perusahaan.
Beban Pokok Naik, Margin Laba Kotor Turun
Laporan keuangan semester I-2026 menunjukkan beban pokok pendapatan PTSN meningkat menjadi 167,45 juta dolar AS dari sebelumnya 94,96 juta dolar AS.
Kenaikan itu membuat laba kotor perusahaan turun menjadi 14,83 juta dolar AS, dibandingkan 15,35 juta dolar AS pada periode yang sama tahun lalu.
Tekanan juga terlihat pada margin laba kotor yang menyusut dari 13,9 persen menjadi 8,1 persen. Artinya, porsi keuntungan yang tersisa dari pendapatan setelah dikurangi beban pokok menjadi lebih kecil.
Selain itu, beban usaha meningkat menjadi 7,52 juta dolar AS dari 7,22 juta dolar AS. Perseroan juga mencatat rugi selisih kurs bersih sebesar 592.288 dolar AS, berbalik dari keuntungan 79.324 dolar AS pada semester I-2025.
Beban keuangan turut naik menjadi 794.599 dolar AS dari sebelumnya 622.156 dolar AS.
Kombinasi tekanan tersebut tercermin pada laba sebelum pajak yang turun menjadi 6,13 juta dolar AS, dibandingkan 8,64 juta dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Setelah dikurangi beban pajak penghasilan sebesar 1,44 juta dolar AS, PTSN membukukan laba tahun berjalan sebesar 4,69 juta dolar AS.
Kenaikan Saham di Tengah Sentimen Pengadaan Ponsel
Pada penutupan perdagangan Jumat (23/10/2026), saham PTSN menguat 24,46 persen ke level Rp346 per lembar.
Herditya mengaitkan pergerakan saham tersebut dengan wacana pemerintah menyediakan ponsel gratis bagi sedikitnya 25 juta warga dewasa dari kelompok desil 1–4.
Program yang diwacanakan itu ditujukan untuk mendukung kepemilikan rekening digital dalam penyaluran bantuan sosial dan Bantuan Langsung Tunai (BLT).
Dengan asumsi harga perangkat Rp1,1 juta per unit, kebutuhan anggaran pengadaan diperkirakan mencapai Rp27,61 triliun. PTSN berpotensi memperoleh manfaat apabila terlibat dalam perakitan dan produksi perangkat yang dibutuhkan.
Meski demikian, potensi bisnis dari wacana tersebut perlu dibedakan dari kinerja yang telah terealisasi. Peluang pengadaan belum dengan sendirinya menjamin tambahan pendapatan ataupun laba bagi perseroan.
Bagi investor, pertumbuhan pendapatan PTSN pada semester I-2026 menjadi salah satu indikator perkembangan bisnis.
Namun, penyusutan margin laba kotor dan penurunan laba sebelum pajak menunjukkan bahwa kemampuan perusahaan mengendalikan biaya tetap menjadi faktor penting dalam menilai prospek ke depan.
Dengan demikian, penilaian terhadap saham PTSN tidak cukup hanya bertumpu pada kenaikan harga maupun PBV di bawah satu kali.
Perkembangan laba, margin keuntungan, dan arus kas operasional tetap perlu dicermati untuk melihat apakah pertumbuhan pendapatan dapat menghasilkan keuntungan yang lebih kuat.
Baca berita lainnya di JurnalLugas.Com
(Hans)






