JurnalLugas.Com — Konflik bersenjata antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel memunculkan persoalan baru terkait masa depan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi perhatian dunia.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan, situasi kawasan dan mekanisme pengelolaan selat tersebut tidak akan kembali seperti sebelum perang.
Pernyataan itu disampaikan Araghchi dalam pidatonya di Kementerian Luar Negeri Iran pada Minggu, 26 Oktober 2026, sebagaimana dikutip Press. Ia menilai konflik telah melahirkan realitas baru yang perlu diperhitungkan dalam pengaturan keamanan kawasan.
“Perang ini telah mengubah banyak hal dan menghadirkan realitas baru yang harus diakui,” ujar Araghchi.
Ia juga menyoroti perubahan yang menurutnya akan terjadi pada jalur pelayaran di Selat Hormuz, termasuk mekanisme pengelolaannya setelah konflik.
Iran Dorong Skema Keamanan Regional
Araghchi menyatakan Teheran terbuka terhadap usulan keamanan yang dirancang oleh negara-negara di kawasan Timur Tengah sendiri.
Sikap tersebut menempatkan pengaturan keamanan regional sebagai salah satu isu penting di tengah perselisihan Iran dengan Washington.
Selat Hormuz memiliki posisi strategis dalam perdagangan energi global karena menjadi jalur pelayaran penting bagi pengiriman minyak dan produk energi dari kawasan Teluk.
Perubahan aturan maupun gangguan terhadap lalu lintas kapal di wilayah ini berpotensi menimbulkan dampak yang meluas ke pasar energi dan perdagangan internasional.
Iran dan AS Berbeda Pandangan
Perselisihan Teheran dan Washington mengenai Selat Hormuz berkaitan dengan kewenangan pengaturan lalu lintas kapal.
Iran bersikeras mempertahankan otoritasnya dalam pengelolaan jalur tersebut, sedangkan Amerika Serikat menuntut kebebasan navigasi tanpa pembatasan.
Kedua negara sebelumnya sempat mencapai kesepakatan sementara pada Juni untuk meredakan konflik. Namun, upaya diplomatik berikutnya kembali menemui kebuntuan ketika ketegangan antara kedua pihak meningkat.
Pernyataan terbaru Araghchi memperlihatkan bahwa masa depan Selat Hormuz bukan hanya menyangkut keamanan pelayaran, tetapi juga menjadi bagian dari perundingan yang lebih luas mengenai hubungan Iran dengan Amerika Serikat dan tatanan keamanan Timur Tengah setelah konflik.
Baca berita lainnya di JurnalLugas.Com
(Handoko)






