JurnalLugas.Com — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan perlu menghentikan pembunuhan terhadap para pemimpin Iran agar pemerintahannya dapat mengetahui pihak yang akan diajak berunding. Di tengah pernyataan tersebut, Trump tetap menegaskan bahwa Teheran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
Pernyataan itu disampaikan Trump ketika berpidato dalam kampanye di Georgia, Sabtu. Ia menyinggung situasi kepemimpinan Iran setelah serangkaian serangan militer Amerika Serikat yang menurutnya telah melemahkan struktur kekuasaan negara tersebut.
Trump mengaitkan penghentian serangan terhadap para pemimpin Iran dengan kebutuhan Washington untuk mengidentifikasi mitra dalam proses perundingan.
Ia mengatakan perlu menghentikan aksi pembunuhan terhadap pimpinan Iran sementara waktu agar dapat mengetahui siapa yang mewakili negara itu dalam pembicaraan dengan Amerika Serikat.
Dalam pidatonya, Trump juga mengklaim Iran telah kehilangan banyak kemampuan militer dan sejumlah tokoh penting dalam kepemimpinannya.
Namun, pernyataan tersebut merupakan penilaian yang disampaikan Trump dan tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh kemampuan militer maupun struktur pemerintahan Iran telah hilang.
Trump Kembali Soroti Ancaman Nuklir Iran
Selain membahas kepemimpinan Iran, Trump kembali membela keputusannya menarik Amerika Serikat dari kesepakatan nuklir Iran pada 2018. Kesepakatan yang dikenal sebagai Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) itu disepakati pada 2015 ketika Barack Obama menjabat sebagai presiden AS.
Trump menilai perjanjian tersebut berisiko membuka jalan bagi Iran untuk mengembangkan senjata nuklir. Ia menyebut penarikan Amerika Serikat dari kesepakatan itu sebagai langkah yang dilakukan pada waktu yang tepat.
Pandangan tersebut menjadi bagian dari pembelaan Trump terhadap kebijakan Iran yang ditempuh pemerintahannya. Penarikan AS dari JCPOA pada 2018 merupakan keputusan yang kemudian diikuti penerapan kembali sanksi terhadap Teheran.
Trump juga menyatakan operasi militer Amerika Serikat, yakni Operation Midnight Hammer dan Operation Epic Fury, telah menghancurkan kemampuan pengayaan nuklir Iran.
Klaim itu disampaikan untuk menegaskan bahwa tekanan militer AS telah memberikan dampak besar terhadap program nuklir Teheran.
Meski demikian, pernyataan Trump mengenai kehancuran kemampuan pengayaan nuklir tersebut perlu dibedakan dari hasil verifikasi independen mengenai kondisi aktual fasilitas dan program nuklir Iran.
Washington Tetap Menjadikan Senjata Nuklir sebagai Garis Merah
Trump turut mengklaim Amerika Serikat telah mengungguli Iran dalam bidang militer dan keuangan. Ia menegaskan bahwa tujuan pemerintahannya adalah mencegah Iran memiliki senjata nuklir, sekalipun pembicaraan dengan Teheran masih menjadi persoalan yang harus dihadapi Washington.
Pernyataan tersebut memperlihatkan dua hal yang berjalan bersamaan dalam sikap Trump: tekanan terhadap kepemimpinan Iran dan kebutuhan untuk mengetahui pihak yang dapat diajak berunding.
Persoalan nuklir tetap menjadi isu utama dalam hubungan dengan Teheran.
Sementara itu, pernyataan Trump mengenai perlunya menghentikan pembunuhan terhadap para pemimpin Iran menunjukkan bahwa keberadaan pihak yang dapat mewakili Iran dalam perundingan juga menjadi pertimbangan yang ia kemukakan secara terbuka.
Baca berita lainnya di JurnalLugas.Com
(Dahlan)






