JurnalLugas.Com — Nyeri sendi kerap dianggap sebagai tanda asam urat. Padahal, keluhan berupa nyeri, bengkak, kaku, hingga sulit bergerak dapat berkaitan dengan sejumlah kondisi berbeda.
Asam urat tinggi, rematik, dan arthritis memang saling berhubungan, tetapi ketiganya tidak memiliki arti yang sama.
Kesalahan memahami istilah tersebut bisa membuat seseorang keliru menilai kondisi tubuhnya. Tidak semua orang yang memiliki kadar asam urat tinggi mengalami serangan nyeri sendi. Sebaliknya, nyeri sendi juga tidak selalu disebabkan oleh penumpukan kristal asam urat.
Karena itu, mengenali perbedaan ketiganya menjadi langkah awal untuk menentukan pemeriksaan dan penanganan yang sesuai.
Asam Urat Tinggi Belum Tentu Menyebabkan Nyeri
Asam urat merupakan zat hasil pemecahan purin yang secara alami terdapat dalam tubuh dan juga berasal dari makanan. Dalam kondisi normal, sebagian besar asam urat dikeluarkan melalui ginjal bersama urine.
Masalah dapat muncul ketika tubuh memproduksi asam urat secara berlebihan atau ginjal tidak membuangnya secara optimal. Kondisi ini menyebabkan kadar asam urat dalam darah meningkat, yang dikenal sebagai hiperurisemia.
Namun, kadar asam urat tinggi tidak otomatis berarti seseorang menderita penyakit asam urat atau gout. Sebagian orang tidak mengalami gejala, meskipun hasil pemeriksaan darah menunjukkan kadar yang meningkat.
Menurut penjelasan dalam materi edukasi Perhimpunan Reumatologi Indonesia, peningkatan kadar asam urat tidak selalu disertai artritis gout. Penyakit tersebut terjadi ketika kristal urat menumpuk di jaringan dan memicu peradangan.
Jika gout muncul, gejalanya dapat berupa nyeri hebat yang datang mendadak, pembengkakan, kemerahan, serta sensasi panas pada sendi.
Serangan sering terjadi di pangkal ibu jari kaki, tetapi juga dapat menyerang lutut, pergelangan kaki, tangan, dan bagian sendi lainnya.
Rematik Bukan Nama Satu Penyakit
Istilah rematik sering digunakan masyarakat untuk menyebut berbagai keluhan pada sendi, otot, atau jaringan di sekitarnya. Dalam penggunaan sehari-hari, istilah ini dapat merujuk pada kondisi yang berbeda-beda sehingga penyebabnya perlu diperiksa lebih lanjut.
Salah satu penyakit yang kerap dikaitkan dengan rematik adalah rheumatoid arthritis atau artritis reumatoid. Penyakit ini merupakan gangguan autoimun kronis, yaitu kondisi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan tubuh sendiri dan memicu peradangan.
Gejalanya dapat berupa nyeri, bengkak, dan kekakuan sendi. Keluhan sering melibatkan beberapa sendi sekaligus, terutama pada tangan, pergelangan tangan, dan kaki. Kekakuan juga dapat terasa setelah bangun tidur atau setelah lama tidak bergerak.
Berbeda dari gout yang berkaitan dengan endapan kristal urat, artritis reumatoid melibatkan gangguan sistem kekebalan tubuh. Tanpa penanganan yang tepat, peradangan berkepanjangan berisiko merusak sendi.
Meski demikian, gejala saja tidak cukup untuk memastikan seseorang mengalami artritis reumatoid. Pemeriksaan dokter diperlukan untuk membedakannya dari jenis radang sendi lainnya.
Arthritis Adalah Istilah Umum untuk Radang Sendi
Arthritis, yang dalam bahasa Indonesia disebut artritis, merupakan istilah untuk kondisi peradangan pada satu atau lebih sendi. Jadi, arthritis bukan hanya satu penyakit dengan satu penyebab.
Gout atau artritis gout termasuk salah satu bentuk arthritis. Begitu pula rheumatoid arthritis. Selain itu, terdapat osteoarthritis, yaitu gangguan sendi yang berkaitan dengan perubahan dan kerusakan jaringan sendi, yang dapat menimbulkan nyeri serta kekakuan.
Perbedaan penyebab tersebut membuat penanganannya tidak bisa disamakan. Nyeri akibat osteoarthritis, misalnya, memiliki mekanisme yang berbeda dari peradangan akibat gout atau penyakit autoimun.
Karena itu, menyebut semua nyeri sendi sebagai asam urat dapat mengaburkan penyebab sebenarnya. Pemeriksaan yang tepat membantu menentukan apakah keluhan berkaitan dengan kristal urat, gangguan autoimun, perubahan struktur sendi, atau kondisi lain.
Bagaimana Membedakan Gejalanya?
Ada beberapa gambaran yang dapat membantu memahami perbedaan ketiga kondisi tersebut.
- Asam urat tinggi: kadar asam urat dalam darah meningkat, tetapi bisa tidak menimbulkan gejala.
- Gout atau artritis gout: nyeri sendi biasanya muncul mendadak, terasa sangat kuat, dan dapat disertai bengkak, kemerahan, serta rasa panas.
- Rematik: istilah umum yang digunakan untuk beragam keluhan atau penyakit pada sendi dan jaringan terkait. Gejalanya bergantung pada penyebabnya.
- Arthritis: istilah medis untuk radang sendi, termasuk gout dan rheumatoid arthritis, dengan karakteristik berbeda sesuai jenis penyakitnya.
Perbedaan tersebut bukan alat untuk mendiagnosis diri sendiri. Beberapa penyakit sendi memiliki gejala yang mirip dan dapat terjadi pada bagian tubuh yang sama.
Kapan Perlu Memeriksakan Diri?
Nyeri sendi yang berulang, pembengkakan yang tidak kunjung membaik, atau kekakuan yang mengganggu aktivitas sebaiknya diperiksakan kepada tenaga medis.
Dokter dapat menilai pola keluhan, memeriksa sendi, serta menyarankan pemeriksaan darah atau pemeriksaan tambahan sesuai kebutuhan.
Pemeriksaan kadar asam urat saja tidak selalu cukup untuk memastikan gout, terutama jika gejala dan hasil pemeriksaan lainnya belum mendukung diagnosis.
Jika nyeri dan pembengkakan muncul secara mendadak disertai demam atau kondisi tubuh memburuk, pemeriksaan medis perlu dilakukan segera.
Gejala tersebut dapat menandakan infeksi sendi atau masalah serius lain yang membutuhkan penanganan cepat.
Memahami perbedaan asam urat tinggi, rematik, dan arthritis membantu masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab nyeri sendi.
Langkah terpenting bukan sekadar meredakan rasa sakit, melainkan memastikan kondisi yang mendasarinya agar penanganan lebih tepat.
Baca berita lainnya di JurnalLugas.Com
(Wening)






