JurnalLugas.Com — Persaingan menuju pemilihan paruh waktu Amerika Serikat pada 3 November 2026 diwarnai serangan Donald Trump terhadap Abdul El-Sayed, kandidat Senat dari Partai Demokrat di Michigan.
Dalam kampanye terbarunya, Presiden AS itu mengaitkan kemenangan El-Sayed dengan ancaman ekstremisme dan bahkan menyebut perayaan Natal bisa terancam.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump saat berkampanye di Port Huron, Michigan, Minggu (25/10/2026). Ia melontarkan sejumlah tuduhan terhadap El-Sayed, termasuk mengaitkannya dengan kelompok jihadis dan Ikhwanul Muslimin, tanpa menyertakan bukti yang mendukung klaim tersebut dalam pidatonya.
Trump juga menuduh El-Sayed ingin menerapkan hukum syariah di Amerika Serikat. Ia menggambarkan kemenangan kandidat Demokrat itu sebagai ancaman terhadap keamanan nasional dan kehidupan masyarakat Amerika.
“Jika Abdul dan Partai Demokrat menang, mereka akan membuka pintu bagi para jihadis dan menciptakan ancaman kekerasan serta teror, sampai masyarakat tidak bisa lagi merayakan Natal,” ujar Trump dalam pidatonya.
Trump bahkan menyebut El-Sayed sebagai “jihadis” dan melontarkan pernyataan mengenai pemeriksaan keamanan menggunakan detektor logam sebelum kandidat tersebut memasuki Senat.
Serangan itu memperlihatkan bagaimana identitas agama menjadi bagian dari pertarungan politik menjelang pemilu paruh waktu, ketika kursi Senat dari Michigan menjadi salah satu posisi yang diperebutkan.
El-Sayed Bantah Tuduhan dan Soroti Biaya Hidup
El-Sayed, seorang dokter dan mantan pejabat kesehatan masyarakat kelahiran Amerika Serikat, menanggapi serangan tersebut dengan menyebutnya sebagai upaya mengalihkan perhatian publik dari persoalan yang lebih mendesak.
Dalam konferensi pers di Detroit, Senin (26/10/2026), ia menilai tuduhan yang diarahkan kepadanya tidak didukung bukti dan tidak menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat.
Ia menegaskan bahwa identitas agama dan namanya tidak berkaitan dengan kesulitan ekonomi yang dirasakan warga Amerika.
“Nama dan agama saya bukan penyebab masyarakat kesulitan membeli bensin, memenuhi kebutuhan sehari-hari, membayar tempat tinggal, atau memperoleh layanan kesehatan,” tegas El-Sayed.
Ia juga mengkritik Partai Republik karena dinilai lebih menonjolkan serangan personal daripada menawarkan solusi atas persoalan biaya hidup.
Menurut El-Sayed, masyarakat membutuhkan kebijakan yang mampu menekan pengeluaran rumah tangga, menyediakan udara dan air bersih, serta memperluas akses terhadap layanan kesehatan.
Sebelumnya, dalam wawancara dengan ABC News pada 20 Oktober, El-Sayed juga menilai identitas agama dirinya digunakan untuk mengalihkan perhatian dari persoalan ekonomi yang membebani masyarakat.
Tuduhan Hubungan dengan Ikhwanul Muslimin Dipersoalkan
Selain Trump, kandidat Senat dari Partai Republik, Mike Rogers, turut mengaitkan El-Sayed dengan Ikhwanul Muslimin dan Democratic Socialists of America (DSA).
Rogers menuduh El-Sayed memiliki hubungan dengan organisasi-organisasi yang disebutnya mendukung Ikhwanul Muslimin, Hamas, dan Hizbullah.
Namun, pernyataan tersebut disampaikan tanpa bukti pendukung dalam keterangan yang tersedia.
Tidak terdapat bukti dalam bahan pemberitaan ini bahwa El-Sayed merupakan anggota Ikhwanul Muslimin ataupun organisasi asing lainnya. Ia juga disebut bukan anggota DSA.
El-Sayed telah menyatakan komitmennya untuk menjunjung tinggi Konstitusi Amerika Serikat.
Persoalan tersebut menjadi sorotan karena tuduhan yang menyangkut agama dan dugaan keterkaitan dengan organisasi ekstremis berpotensi memengaruhi persepsi pemilih. Namun, tuduhan dalam kampanye politik perlu dibedakan dari fakta yang telah dibuktikan.
Isu Anti-Muslim Kembali Muncul dalam Kampanye Trump
Serangan terhadap El-Sayed juga mengingatkan publik pada kontroversi kebijakan Trump terhadap umat Islam. Pada 2015, ketika pertama kali mencalonkan diri sebagai presiden, Trump pernah menyerukan larangan menyeluruh bagi umat Muslim untuk memasuki Amerika Serikat.
Setelah menjabat, pemerintahannya menerapkan pembatasan perjalanan terhadap warga dari sejumlah negara mayoritas Muslim melalui kebijakan yang dikenal luas sebagai Muslim ban.
Dalam kampanye di Michigan kali ini, Trump berulang kali menyinggung identitas agama El-Sayed dan bahkan menyebut namanya secara keliru sebagai “Mohammed”.
Di sisi lain, El-Sayed berusaha mengembalikan perhatian pada agenda ekonomi dan kesehatan. Ia menempatkan penurunan biaya hidup serta perluasan layanan kesehatan sebagai persoalan utama yang perlu dijawab oleh pemerintah.
El-Sayed bersaing dengan Rogers untuk memperebutkan kursi Senat Michigan yang saat ini dipegang Senator Demokrat Gary Peters, yang tidak mencalonkan diri kembali.
Menjelang pemungutan suara 3 November 2026, persaingan tersebut memperlihatkan pertarungan dua pendekatan kampanye: serangan politik yang menonjolkan identitas dan keamanan, serta pesan mengenai kebutuhan ekonomi dan layanan publik.
Baca berita lainnya di JurnalLugas.Com.
(Dahlan)






