JurnalLugas.Com – Pada akhir Maret 2024, cadangan devisa Indonesia turun menjadi USD140,4 miliar dari posisi sebelumnya sebesar USD144,0 miliar pada akhir Februari 2024.
Menurut Bank Indonesia (BI) dalam siaran persnya pada Jumat (5/4/2024), penurunan ini disebabkan oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah, kebutuhan likuiditas valas korporasi, dan upaya stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi.
BI menegaskan bahwa cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor atau 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, melebihi standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Hal ini dianggap mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga stabilitas makroekonomi serta sistem keuangan.
Erwin Haryono, Asisten Gubernur Departemen Komunikasi BI, menyatakan dalam rilis resmi bahwa Bank Indonesia memproyeksikan cadangan devisa akan tetap memadai di masa depan, didukung oleh stabilitas dan prospek ekonomi nasional yang terjaga.
Sementara itu, utang pemerintah mengalami peningkatan menjadi Rp8.319,2 triliun pada 29 Februari 2024, naik Rp66,13 triliun dari bulan sebelumnya.
Meskipun masih di bawah batas aman rasio utang sebesar 60 persen sesuai Undang-Undang NO. 17/2023, utang tersebut setara dengan 39,06 persen dari produk domestik bruto (PDB), mencatat tren tertinggi sepanjang masa.
Di sisi lain, nilai tukar rupiah mengalami tekanan dalam beberapa pekan terakhir, meskipun pada Jumat (5/4), menguat 0,25 persen menjadi Rp15.849 per dolar AS setelah mendekati Rp16.000 per USD dalam seminggu sebelumnya.
Pasar juga mencatat kenaikan indeks dolar di atas 104,3 pada hari yang sama, memulihkan sebagian kerugian akibat ketidakpastian mengenai kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).
Meskipun para pejabat Fed seperti Neel Kashkari dan Jerome Powell menunjukkan sikap hati-hati terhadap penurunan suku bunga, pasar tetap berspekulasi bahwa pelonggaran kebijakan moneter akan dimulai tahun ini.
Investor menantikan data ketenagakerjaan dan inflasi yang akan dirilis dalam beberapa minggu mendatang untuk mengantisipasi keputusan bank sentral pada pertemuan Mei dan Juni mendatang.






