JurnalLugas.Com – China terus menghadapi tantangan dalam memulihkan ekonominya di paruh pertama tahun 2024.
Sebagai kekuatan ekonomi global kedua, China memainkan peran penting dalam menentukan arah perekonomian dunia.
Berbagai data ekonomi terkini memberikan gambaran tentang kondisi negara ini pasca dampak lockdown Covid-19 yang melanda.
Inflasi harga konsumen di China menunjukkan peningkatan selama tiga bulan berturut-turut.
Meskipun pemulihan ekonomi masih rapuh, permintaan domestik terus membaik.
Kenaikan harga terutama terjadi pada sektor non-pangan, termasuk pakaian, perumahan, kesehatan, dan pendidikan.
Namun, biaya transportasi juga mengalami sedikit kenaikan, seiring dengan peningkatan harga utilitas seperti gas alam dan tarif kereta api.
Pinjaman yang disalurkan oleh bank-bank di China mengalami penurunan, melampaui perkiraan pasar.
Hal ini menandakan bahwa meskipun ada upaya untuk merangsang kredit baru dengan alat pinjaman baru dari Bank Rakyat China, pinjaman baru tetap rendah.
Pembiayaan sosial bahkan mengalami kontraksi, menunjukkan ketidakpastian dalam perekonomian.
Inflasi harga produsen turun lebih dari yang diperkirakan, menandakan tekanan pada tingkat pabrik selama 19 bulan berturut-turut.
Penurunan terutama terjadi pada biaya alat produksi, pertambangan, bahan baku, dan pemrosesan. Meskipun pemerintah memberikan dukungan, ketidakpastian ekonomi terus berlanjut.
Harga pangan di China terus menurun selama 10 bulan berturut-turut, dipengaruhi oleh penurunan harga telur, buah segar, susu, dan minyak goreng.
Namun, ada peningkatan harga pada sayuran segar dan daging babi. Hal ini mencerminkan dinamika kompleks dalam pasar pangan China.






