JurnalLugas.Com – Mulai 10 Juni, Pemerintah Malaysia akan memberlakukan pemotongan subsidi solar, sebagaimana diumumkan oleh Menteri Keuangan Kedua, Amir Hamzah Azizan. Kebijakan ini diambil untuk memperbaiki kondisi keuangan negara.
Dalam pengumuman yang dilakukan pada Minggu, 9 Juni 2024, di Putrajaya, Amir Hamzah menyatakan bahwa diesel akan dijual sesuai harga pasar. Langkah ini diperkirakan akan menghemat anggaran negara sekitar 4 miliar ringgit (setara dengan US$853 juta) per tahun. Selain itu, pemerintah juga berencana untuk menghapus subsidi menyeluruh untuk RON95, jenis bensin yang paling murah dan paling umum digunakan di Malaysia.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah yang dipimpin oleh Perdana Menteri Anwar Ibrahim untuk memangkas defisit fiskal negara. Pemerintah berencana menurunkan defisit fiskal menjadi 4,3% dari produk domestik bruto (PDB) pada tahun ini, turun dari 5% pada tahun 2023. Upaya pengurangan subsidi ini merupakan bagian dari reformasi ekonomi yang diawasi ketat oleh investor internasional.
Namun, kebijakan pemotongan subsidi ini juga mempertimbangkan dampaknya terhadap pengeluaran rumah tangga dan inflasi. Bank sentral Malaysia memprediksi bahwa inflasi, yang telah berada di bawah 2% sejak September lalu, dapat meningkat menjadi rata-rata 3,5% tahun ini jika subsidi bahan bakar untuk solar dan RON95 dihapuskan secara bertahap.
Kebijakan penghapusan subsidi ini mencerminkan komitmen pemerintah Malaysia dalam melakukan reformasi ekonomi untuk mencapai stabilitas fiskal, meskipun dihadapkan pada tantangan inflasi dan tekanan ekonomi pada masyarakat.






