JurnalLugas.Com – Anggota Dewan Pembina Perludem, Titi Anggraini, mengungkapkan bahwa jumlah calon tunggal dalam Pilkada mengalami peningkatan sejak 2015. Hal ini disebabkan oleh keinginan partai politik untuk memastikan kemenangan dengan cara yang lebih terjamin.
Menurut Titi, “Partai politik cenderung memilih strategi yang lebih pasti untuk menang sejak awal. Mereka merasa lebih aman bertaruh pada dukungan partai daripada mengandalkan suara rakyat. Menghadapi pilkada dan bertaruh pada suara rakyat masih dianggap risiko yang besar dan belum sepenuhnya meyakinkan.”
Ia menjelaskan data dari berbagai Pilkada Serentak: pada Pilkada Serentak 2015, terdapat tiga calon tunggal dari 269 daerah dengan tingkat kemenangan 100 persen. Pada Pilkada Serentak 2017, ada sembilan calon tunggal dari 101 daerah. Pada Pilkada Serentak 2018, dari 170 daerah, terdapat 16 calon tunggal, dengan 15 di antaranya menang dan satu kalah di Kota Makassar. Pada Pilkada Serentak 2020, ada 25 calon tunggal dari 270 daerah, semuanya memenangkan kontestasi.
“Secara keseluruhan, dari Pilkada 2015 hingga 2020, dari 53 calon tunggal, hanya satu yang kalah, sementara 52 lainnya menang, yang berarti sekitar 98,11 persen dari calon tunggal berhasil menang,” ujar Titi.
Titi juga menambahkan bahwa peningkatan calon tunggal disebabkan oleh semakin banyaknya hambatan untuk berkontestasi. Syarat pencalonan, baik untuk calon perseorangan maupun partai politik, semakin berat. Dulu, syarat calon perseorangan berada pada kisaran 3 persen hingga 6,5 persen, kini menjadi 6,5 hingga 10 persen. Sementara itu, syarat untuk calon dari partai politik juga meningkat, dari sebelumnya 15 persen kursi atau suara sah DPRD menjadi 20 persen kursi atau 25 persen suara sah DPRD.
Lebih lanjut, Titi menjelaskan bahwa hegemoni kekuatan petahana turut berkontribusi terhadap meningkatnya calon tunggal. Lebih dari 80 persen calon tunggal sejak 2015 hingga 2020 adalah petahana yang memiliki kekuatan politik yang dominan.
“Petahana yang memiliki kekuatan besar dan didukung mesin politik yang solid membuat kecenderungan calon tunggal meningkat,” pungkasnya.






