JurnalLugas.Com – Israel baru-baru ini melancarkan operasi militer besar-besaran di Tepi Barat sebagai respons terhadap apa yang disebutnya sebagai ‘aktivitas teroris.’ Serangan ini menjadi bagian dari eskalasi terbaru konflik antara Israel dan Palestina sejak dimulainya perang di Gaza.
Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, serangan tersebut menyebabkan sepuluh warga Palestina tewas dan sebelas lainnya mengalami cedera. Laporan menunjukkan bahwa tentara Israel tidak hanya mengincar militan, tetapi juga memblokir akses ke rumah sakit serta menghancurkan infrastruktur di kota Jenin, Tubas, dan Tulkarem.
Di sisi lain, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengklaim bahwa operasi ini, yang dimulai pada Rabu pagi 28 Agustus 2024, bertujuan untuk menargetkan militan. Mereka menyebutkan bahwa lima militan, termasuk satu yang dibebaskan dari penjara dalam pertukaran sandera dengan Hamas, tewas dalam serangan tersebut.
Kegiatan militer ini merupakan lanjutan dari peningkatan operasi Israel di Tepi Barat setelah serangan oleh Hamas pada 7 Oktober dari Jalur Gaza. Juru bicara militer Israel, Nadav Shoshani, menuduh Iran terlibat dalam penyelundupan senjata ke Tepi Barat untuk melemahkan Israel. Namun, klaim ini belum dapat diverifikasi kebenarannya. Shoshani juga menambahkan bahwa blokade rumah sakit dimaksudkan untuk mencegah militan bersembunyi di dalamnya.
Iran diketahui mensponsori Hamas dan kelompok militan lain yang memerangi Israel, termasuk Hizbullah di Lebanon. AS mengklasifikasikan Hamas dan Hizbullah sebagai organisasi teroris. Sebelumnya, IDF melaporkan bahwa mereka telah membunuh seorang anggota kelompok Jihad Islam di perbatasan Suriah-Lebanon, yang juga memiliki hubungan dengan Iran.
Juru bicara kepresidenan Palestina, Nabil Abu Rudineh, menilai bahwa langkah IDF di Tepi Barat tidak akan membawa keamanan dan stabilitas, malah menambah penderitaan warga Palestina. Sementara itu, Hamas menganggap situasi ini sebagai puncak dari “operasi perlawanan” dan menyerukan protes massal sebagai bentuk dukungan.
Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, mengeluarkan pernyataan mendesak agar Israel segera menghentikan operasinya di Tepi Barat dan mengutuk keras hilangnya nyawa yang terjadi, termasuk anak-anak.
Tepi Barat mengalami peningkatan kekerasan yang signifikan sejak konflik Israel-Hamas dimulai, dengan operasi militer IDF dan bentrokan antara warga Palestina dan pemukim Yahudi semakin sering terjadi.






