JurnalLugas.Com – Pada perdagangan Jumat, 30 Agustus 2024, harga minyak sawit mentah (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives menunjukkan peningkatan yang solid, melanjutkan tren positif dari hari sebelumnya. Berdasarkan pantauan pasar pada pukul 10.39 WIB, kontrak berjangka CPO mencatat kenaikan sebesar 1,19 persen, mencapai MYR3.989 per ton. Secara mingguan, harga CPO sudah mengalami apresiasi lebih dari 3 persen.
David Ng, seorang trader minyak sawit, menjelaskan bahwa kekhawatiran mengenai penurunan produksi dalam beberapa minggu terakhir telah menjadi faktor utama yang mendorong sentimen positif di pasar. Ng memperkirakan level support CPO berada di MYR3.830 per ton, sementara level resistance diperkirakan di MYR4.000 per ton.
Sementara itu, Sathia Varqa, analis senior dari Fastmarkets Palm Oil Analytics, menambahkan bahwa adanya aksi beli yang tidak merata dan kinerja yang bervariasi di Bursa Komoditas Dalian, China, turut menopang kenaikan harga. Meski demikian, Varqa mencatat bahwa penguatan ringgit terhadap dolar AS telah membatasi kenaikan harga lebih lanjut. Selain itu, ekspor minyak sawit diprediksi akan mengalami penurunan pada akhir bulan ini.
Pada saat yang sama, kondisi cuaca kering dan usia pohon sawit yang semakin tua di Indonesia, sebagai salah satu produsen utama, menimbulkan kekhawatiran mengenai potensi penurunan hasil panen dalam waktu dekat. Di sisi lain, presiden terpilih Indonesia, Prabowo Subianto, melihat regulasi deforestasi Uni Eropa sebagai peluang untuk meningkatkan penggunaan minyak sawit dalam negeri. Prabowo berencana untuk memperkenalkan kebijakan pencampuran minyak sawit 50 persen dalam solar (B50) pada tahun depan, sebagai bagian dari upaya meningkatkan produksi biodiesel.
Di India, sebagai importir minyak sawit terbesar di dunia, permintaan diperkirakan akan tetap kuat menjelang musim perayaan yang berlangsung dari September hingga November. Namun, laju kenaikan harga CPO sedikit terhambat oleh melemahnya ekspor. Data dari survei kargo menunjukkan bahwa pengiriman produk minyak sawit Malaysia dalam 25 hari pertama bulan Agustus turun antara 14,1 persen hingga 14,9 persen dibandingkan bulan sebelumnya.






