JurnalLugas.Com – Pada Sabtu 12 Oktober 2024, aksi protes dan mengutuk terhadap serangan militer zionis Israel di Jalur Gaza dan Lebanon terjadi di berbagai kota besar di Eropa, termasuk Stockholm, Paris, dan Berlin. Ratusan orang turun ke jalan menyerukan agar segera dihentikannya serangan dan dicapai gencatan senjata.
Di Stockholm, demonstrasi berlangsung di Odenplan dengan ratusan peserta yang berjalan menuju gedung parlemen Swedia. Mereka menggemakan berbagai slogan, termasuk “Israel pembunuh, keluar dari Palestina” dan “Gencatan senjata segera tanpa syarat.” Salah satu aktivis, Kajsa Ekis Ekman, menyatakan bahwa kekerasan yang terjadi di Gaza merupakan bentuk genosida. Ia juga menyoroti dukungan negara-negara Barat terhadap Israel yang dinilai memperparah situasi.
Di Paris, para pendukung Palestina dan Lebanon berkumpul di dekat Fontaine des Innocents. Mereka menuntut agar Israel segera menghentikan serangan militer dan mendesak pemerintah Prancis untuk menarik dukungan terhadap Tel Aviv.
Para pengunjuk rasa membawa spanduk yang memuat gambar-gambar warga Palestina, dan mengkritik kebijakan Presiden Emmanuel Macron yang dinilai terlalu mendukung Israel.
Sementara itu, di Berlin, sekitar 2.000 orang berpartisipasi dalam demonstrasi yang berlangsung dari Alun-Alun Innsbruck hingga Stasiun Metro Steglitz. Massa meneriakkan slogan-slogan seperti “Hentikan pendanaan genosida” dan “Kemerdekaan untuk Palestina.” Aksi ini sempat diwarnai insiden kecil, di mana beberapa demonstran ditahan oleh polisi.
Protes ini menggambarkan ketidakpuasan masyarakat internasional terhadap aksi militer Israel di Gaza dan Lebanon, serta meningkatnya tekanan bagi negara-negara Eropa untuk mengambil sikap lebih tegas dalam mendesak penghentian kekerasan.






