JurnalLugas.Com – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Marco Rubio, menegaskan kepada Presiden Uni Emirat Arab (UEA), Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan, bahwa Hamas tidak boleh lagi memegang kendali atas Gaza.
Pernyataan ini disampaikan dalam percakapan telepon yang berlangsung pada Selasa, 11 Februari 2025. Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS, Tammy Bruce, mengungkapkan bahwa Rubio mengapresiasi bantuan kemanusiaan yang diberikan UEA kepada Gaza. Namun, ia juga menegaskan bahwa Hamas tidak boleh lagi mengancam Israel atau memerintah di Gaza.
Upaya Diplomasi di Tengah Ketegangan Gaza
Percakapan ini terjadi di tengah meningkatnya kritik internasional terhadap usulan Presiden AS, Donald Trump, yang ingin “mengambil alih” Gaza serta menggusur paksa warga Palestina.
Rubio dan Sheikh Mohammed juga membahas berbagai isu strategis lainnya, termasuk keamanan kawasan, perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Hamas, serta pembebasan sandera, termasuk warga negara AS yang masih ditahan.
Selain itu, keduanya menegaskan kembali hubungan erat antara AS dan UEA serta menjajaki peluang kerja sama di bidang kecerdasan buatan dan teknologi canggih lainnya.
Dukungan untuk Penghentian Permusuhan di Lebanon
Dalam pembicaraan tersebut, Rubio dan Sheikh Mohammed juga menyoroti pentingnya penghentian permusuhan di Lebanon. Situasi di kawasan itu terus menjadi perhatian utama dalam upaya menjaga stabilitas Timur Tengah.
Sebagai bagian dari upaya diplomasi lebih lanjut, Rubio dijadwalkan mengunjungi Timur Tengah dalam pekan ini. Ia berencana singgah di UEA, Israel, dan Arab Saudi untuk membahas berbagai isu, termasuk gencatan senjata yang masih rapuh di Gaza.
Peringatan Trump dan Sikap Hamas
Sebelumnya, pada Senin (10/2), Trump memberikan peringatan keras bahwa Gaza akan menjadi “neraka” jika seluruh sandera Israel tidak dibebaskan paling lambat Sabtu (15/2) pukul 12 siang.
Menanggapi hal ini, Hamas mengumumkan pada Senin malam bahwa mereka menunda tanpa batas waktu pertukaran sandera-tahanan yang sedianya dijadwalkan pada Sabtu. Hamas menuduh Israel telah melanggar perjanjian gencatan senjata yang telah disepakati.
Ketegangan di Gaza terus meningkat, sementara komunitas internasional berharap negosiasi damai dapat membawa solusi jangka panjang bagi konflik yang terus berlarut-larut ini.
Baca berita seputar kemerdekaan Palestina hanya di JurnalLugas.Com






