JurnalLugas.Com – Nilai tukar rupiah dibuka menguat dalam perdagangan hari Selasa, 4 Maret 2025. Mata uang Garuda mengalami apresiasi sebesar 44 poin atau 0,27 persen, menjadi Rp16.436 per dolar AS dari posisi sebelumnya di Rp16.480 per dolar AS. Penguatan ini mencerminkan respons positif pasar terhadap berbagai faktor ekonomi domestik dan global.
Faktor-Faktor Penguatan Rupiah
1. Sentimen Global yang Positif
Kondisi ekonomi global yang lebih stabil turut mendorong penguatan rupiah. Salah satu faktor utama adalah pertumbuhan aktivitas manufaktur di China yang melampaui ekspektasi pada Februari 2025. Data terbaru menunjukkan bahwa kebijakan stimulus ekonomi Beijing berhasil meningkatkan permintaan global, termasuk terhadap komoditas ekspor Indonesia.
2. Kinerja Manufaktur Indonesia yang Meningkat
Sektor manufaktur dalam negeri juga menunjukkan tren positif. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Februari 2025 tercatat di angka 53,6, naik dari 51,9 pada Januari 2025. Angka ini menunjukkan ekspansi di sektor industri, yang turut meningkatkan kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia.
3. Kebijakan Pemerintah yang Mendukung Stabilitas Rupiah
Pemerintah Indonesia baru saja mengimplementasikan Peraturan Pemerintah (PP) No. 8 Tahun 2025 sebagai revisi dari PP No. 36 Tahun 2023 terkait Devisa Hasil Ekspor (DHE). Kebijakan ini mewajibkan eksportir untuk menahan 100% devisa hasil ekspor sumber daya alam di dalam negeri selama satu tahun. Langkah ini bertujuan memperkuat cadangan devisa dan menekan volatilitas rupiah terhadap dolar AS.
4. Stabilitas Cadangan Devisa Bank Indonesia
Bank Indonesia (BI) juga berperan aktif dalam menjaga kestabilan nilai tukar rupiah melalui intervensi di pasar valuta asing dan kebijakan moneter yang fleksibel. Dengan cadangan devisa yang kuat, BI memiliki ruang untuk menjaga volatilitas nilai tukar agar tetap terkendali.
Prospek Rupiah Cemerlang
Meskipun rupiah menunjukkan penguatan, tantangan eksternal masih perlu diwaspadai, seperti kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan ketidakpastian geopolitik global. Namun, dengan fundamental ekonomi yang solid serta dukungan kebijakan pemerintah dan BI, nilai tukar rupiah diperkirakan tetap stabil dalam jangka menengah hingga panjang.
Untuk berita ekonomi dan keuangan terkini, kunjungi JurnalLugas.com.






