JurnalLugas.Com – Petani cabai di Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara, mengeluhkan jadwal tanam yang tumpang tindih antarwilayah. Rencana tanam serentak yang dijadwalkan mulai 20 Mei 2025 menyebabkan kekacauan dalam distribusi air irigasi, yang hanya bersumber dari satu aliran sungai utama.
Kekurangan Air Ancam Tanaman Cabai
Pasokan air yang terbatas tak mampu memenuhi kebutuhan lahan pertanian yang bersamaan masa tanamnya. Akibatnya, sebagian petani terpaksa menunda tanam dan bahkan mengeluarkan biaya tambahan untuk menyedot air dari parit pembuangan.
“Bisa pula bersamaan tanamnya, cemana gak kering ladangnya,” ungkap seorang petani di Desa Bulan-Bulan, Jumat (23/5/2025).
“Hari ini kami pompa air dari parit pembuangan ke ladang. Habis ratusan ribu. Uang air tiap musim juga diminta,” keluhnya.
Dinas Pertanian Dinilai Lalai
Para petani menilai Dinas Pertanian Kabupaten Batu Bara kurang sigap dalam menyusun dan mengatur jadwal tanam. Seharusnya jadwal disesuaikan per desa agar alokasi air irigasi bisa merata dan optimal.
“Dilihatlah daerah mana saja yang mau nanam. Jangan sama jadwalnya. Petugas pertanian kemana?” sambung petani itu dengan nada kecewa.
Jadwal Tanam Serempak di Banyak Desa
Dari data yang dihimpun, jadwal tanam cabai di beberapa desa Kecamatan Lima Puluh Pesisir terpantau hampir bersamaan:
- Desa Lubuk Culik: 20 Mei 2025
- Desa Bulan-Bulan: 20 Mei 2025
- Desa Titi Merah: 20 Mei 2025
- Desa Gembus Laut Kampung Lima: 15 Mei 2025
Harapan untuk Pemkab Batu Bara
Petani berharap Pemerintah Kabupaten Batu Bara, khususnya Bupati Baharuddin, mengevaluasi kinerja Dinas Pertanian dan kedepan menyusun ulang pola tanam agar tidak terjadi konflik antarpetani akibat berebut air.
“Pak Bupati, mohon dievaluasi Dinas Pertanian. Biar kami tenang bertanam cabai. Ini belum tanam aja udah ribut soal air, nanti pas cor bisa-bisa ribut sama tetangga ladang,” pungkas salah satu petani.






