JurnalLugas.Com – Saham PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) mengalami kejatuhan tajam pada perdagangan Senin pagi usai resmi masuk ke papan pemantauan khusus Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan skema perdagangan full call auction (FCA).
Berdasarkan data BEI pukul 10.26 WIB, saham PACK ambles 10 persen dan menyentuh batas auto rejection bawah (ARB), berada di level Rp4.480 per saham. Volume transaksi tercatat sebesar Rp5,64 miliar.
Langkah ini merupakan kelanjutan dari dua kali suspensi perdagangan yang diberlakukan BEI terhadap saham PACK, yakni pada 12 Juni dan kemudian kembali dari 17 hingga 26 Juni 2025. Usai suspensi dicabut, emiten ini langsung dicantumkan dalam papan pemantauan khusus dengan notasi 10, yang berarti pernah dihentikan perdagangannya lebih dari satu hari bursa karena aktivitas perdagangan yang tidak wajar.
Dugaan Backdoor Listing Mengemuka
Pengamat pasar modal Michael Y. menduga anjloknya saham PACK erat kaitannya dengan aksi backdoor listing melalui PT Eco Energi Perkasa, perusahaan yang berafiliasi dengan CNGR asal Tiongkok. Perusahaan ini dikenal memproduksi komponen baterai litium yang banyak digunakan dalam kendaraan listrik.
“Rumornya, CNGR akan menyuntikkan aset sekitar USD10 miliar, atau setara Rp160 triliun. Sementara market cap PACK sekarang hanya Rp6,5 triliun. Jika aksi ini benar terjadi, maka valuasi PACK seharusnya jauh lebih tinggi,” ujar Michael pada 11 Juni 2025.
Ia juga menilai, aksi korporasi besar ini kemungkinan akan diikuti dengan rights issue skala besar. “PACK perlu tambahan ekuitas cukup signifikan untuk menyerap rencana ekspansi dan akuisisi,” tambahnya.
Sebagai informasi, backdoor listing merupakan strategi perusahaan swasta untuk masuk ke bursa tanpa melalui IPO. Proses ini kerap melibatkan akuisisi atau merger dengan perusahaan publik yang sudah tercatat di pasar modal. Strategi ini bisa memicu lonjakan harga saham karena investor menilai adanya prospek bisnis baru yang menjanjikan.
CNGR Perkuat Komitmen di Indonesia
Sinyal serius CNGR untuk masuk lebih dalam ke industri hilirisasi Indonesia diperlihatkan dalam pertemuan resmi dengan Pemerintah RI. Pertemuan berlangsung pada 5 Juni 2025 di Kantor Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Jakarta. Hadir dalam pertemuan tersebut antara lain Menteri Rosan Roeslani, Chairman CNGR Deng Weiming, dan Presiden Direktur CNGR Indonesia, Mr. Liao Hengxing.
Rosan dalam unggahannya menyebut, pertemuan itu membahas kelanjutan pengembangan PT Kawasan Industri Tekno Hijau Konasara serta sejumlah tantangan di sektor logam dan energi baru terbarukan.
“CNGR telah menanamkan investasi Rp42,4 triliun hingga akhir 2024 di Morowali dan Weda Bay, dan membuka lebih dari 6.600 lapangan kerja bagi tenaga kerja Indonesia,” jelas Rosan.
Ia juga menambahkan bahwa ekspansi CNGR sejalan dengan Peta Jalan Hilirisasi Investasi Strategis yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia.
Baca berita selengkapnya hanya di JurnalLugas.Com.






