JurnalLugas.Com – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mengguncang panggung geopolitik dunia dengan kebijakan kontroversial. Dalam pernyataan terbarunya di platform Truth Social pada Senin (7/7/2026), Trump menyatakan bahwa AS akan mengenakan tarif tambahan sebesar 10% terhadap negara-negara yang ia nilai “berpihak pada kebijakan anti-Amerika BRICS”.
“Setiap Negara yang berpihak pada kebijakan anti-Amerika BRICS, akan dikenakan Tarif TAMBAHAN sebesar 10%,” tulis Trump dengan gaya tegas yang khas. “Tidak akan ada pengecualian terhadap kebijakan ini,” lanjutnya.
Langkah ini diumumkan bertepatan dengan berlangsungnya pertemuan tingkat tinggi negara-negara BRICS yang digelar di Brasil pekan ini. Forum yang kini semakin menunjukkan pengaruh globalnya tersebut diikuti oleh 11 negara anggota, termasuk Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, serta negara baru seperti Iran, Mesir, Ethiopia, Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Indonesia.
Tarif Khusus Per Negara
Dalam pernyataan terpisah, Trump juga mengonfirmasi bahwa pemerintahan AS akan mulai mengirimkan surat resmi kepada masing-masing negara pada hari yang sama. Surat tersebut akan menjelaskan secara rinci besaran tarif dan perjanjian bilateral yang akan diberlakukan, termasuk ketentuan khusus yang mungkin menyangkut sektor perdagangan tertentu.
“Ini adalah sinyal bahwa AS tidak akan tinggal diam menghadapi dominasi ekonomi yang bertentangan dengan kepentingan nasional kami,” ujar sumber diplomatik AS yang enggan disebutkan namanya, seperti dilansir media lokal setempat.
Potensi Dampak ke Indonesia
Indonesia, yang baru saja bergabung dalam keanggotaan BRICS pada awal 2025, berpotensi terdampak langsung oleh kebijakan proteksionis terbaru AS ini. Analis hubungan internasional menilai bahwa tarif tersebut bisa memengaruhi ekspor sejumlah komoditas unggulan Indonesia ke pasar Amerika, seperti tekstil, karet, hingga produk manufaktur.
“Pemerintah Indonesia harus segera merespons dan membuka jalur komunikasi diplomatik, mengingat Amerika masih menjadi salah satu mitra dagang terbesar kita,” ujar Dr. F. Hidayat, pengamat ekonomi internasional dari Universitas Indonesia.
BRICS Semakin Solid
Di sisi lain, pertemuan BRICS tahun ini menjadi sorotan karena menunjukkan arah konsolidasi yang makin kuat di antara anggotanya. Isu dedolarisasi, pembangunan sistem keuangan alternatif, serta kerja sama perdagangan lintas kawasan menjadi tema utama diskusi.
Kebijakan Trump ini diprediksi akan memperuncing ketegangan antara blok BRICS dan AS, terutama jika negara-negara BRICS tetap kompak mendorong kebijakan ekonomi yang dinilai menantang dominasi Barat.
Selengkapnya perkembangan politik dan ekonomi dunia hanya di JurnalLugas.Com.






