MIND ID Dihantui Beban Bunga Akuisisi Vale BPK Ungkap Ketimpangan Dividen

JurnalLugas.Com — Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menemukan adanya beban bunga yang signifikan ditanggung PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID terkait akuisisi saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO). Temuan itu tertuang dalam Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Nomor 19/LHP/XX/01/2025 bertanggal 30 Januari 2025.

MIND ID, holding industri pertambangan milik negara, tercatat menanggung beban bunga yang tinggi sejak mengakuisisi 20% saham INCO pada 2020. Dari total investasi senilai Rp5,59 triliun terdiri atas pembelian saham Rp5,52 triliun dan biaya konsultan Rp67,22 miliar perusahaan menerbitkan global bond senilai US\$500 juta dengan tenor 30 tahun dan bunga 5,8%.

Bacaan Lainnya

Akibatnya, MIND ID harus menanggung beban bunga tahunan sebesar Rp324,32 miliar. BPK mencatat, akumulasi beban bunga selama periode 2020 hingga Juni 2023 mencapai Rp1,02 triliun. Sementara itu, penerimaan dividen dari INCO sepanjang periode yang sama hanya Rp272,05 miliar.

“Hal ini menunjukkan adanya indikasi potensi pendapatan yang diperoleh dari dividen INCO tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan MIND ID untuk melakukan pengambilalihan saham INCO,” tulis BPK dalam laporannya, dikutip Senin (21/7/2025).

Dividen INCO pun tak stabil. Perusahaan tambang nikel tersebut tidak membagikan dividen pada tahun buku 2021 dan 2023. Sementara itu, dividen tahun buku 2020 dan 2022 secara total hanya Rp272 miliar, jauh di bawah beban bunga tahunan utang akuisisi.

Investasi Tambahan dan Right Issue

Pada 2024, MIND ID kembali menggelontorkan dana besar untuk menambah kepemilikan saham di INCO, dari 20% menjadi 34%. Investasi ini terdiri atas Rp3,4 triliun untuk pembelian saham dari Vale Canada Limited (7,85%), Sumitomo Metal Mining Co Ltd (11,5%), dan Vale Japan Limited (0,54%).

Baca Juga  Neta Auto Terancam Bangkrut Toyota Siap Akuisisi Hozon Auto Negosiasi

Selain itu, MIND ID juga menyerap 603,4 juta lembar saham baru dalam skema right issue senilai Rp1,46 triliun, setara dengan 6,07% dari total saham yang beredar.

Meski manajemen MIND ID dan INCO menyadari tingginya beban bunga tersebut, pihak MIND ID menyatakan bahwa kepentingan perusahaan untuk menarik dividen pada tahun buku mendatang tidak akan memberatkan INCO.

Menurut sumber internal yang enggan disebutkan namanya, INCO masih memiliki cadangan kas yang kuat dan tengah mencari pinjaman tambahan hingga US\$1,2 miliar guna mendukung pengembangan proyek tambangnya.

Respons Terbatas dari Pihak Terkait

Permintaan konfirmasi atas laporan beban bunga akuisisi ini telah diajukan kepada Wakil Direktur Utama MIND ID, Dany Amrul Ichdan, serta kepada Chief Operating Officer Danantara Indonesia, Dony Oskaria, dan Managing Director Danantara, Febriany Eddy mantan CEO INCO periode 2019–April 2025. Namun hingga berita ini ditayangkan, tidak satu pun dari mereka memberikan tanggapan.

Plt Presiden Direktur INCO, Bernardus Irmanto, juga menyatakan tidak dapat memberikan komentar atas temuan tersebut.

Sementara itu, laporan keuangan MIND ID untuk tahun buku 2024 menunjukkan total utang obligasi mencapai Rp54,46 triliun. Meski turun dari tahun sebelumnya sebesar Rp52,59 triliun, utang obligasi yang jatuh tempo melonjak drastis menjadi Rp16,14 triliun—naik hampir 20 kali lipat dari posisi tahun 2023 sebesar Rp774 miliar.

Tekanan Terhadap Arus Kas dan Ekspansi

Analis pasar dari BRI Danareksa Sekuritas, Chory Ramdhani, menilai beban bunga tetap yang tinggi dari global bonds berpotensi menekan arus kas MIND ID dalam jangka menengah. Ia juga menyebut bahwa pembagian dividen INCO yang tidak konsisten memperburuk kondisi tersebut.

“Dividen dari INCO tidak rutin dan tidak mencukupi menutup beban bunga tahunan. Ini tentu menjadi tekanan bagi MIND ID,” kata Chory saat dihubungi secara terpisah.

Baca Juga  MIND ID Targetkan Pasok Listrik Seluruh Sumatera

Lebih lanjut, ia menyebut tren penurunan harga nikel juga menjadi tantangan tersendiri bagi INCO. Laba bersih INCO anjlok 78,94% pada tahun 2024 menjadi US\$57,76 juta atau sekitar Rp935,71 miliar, dari sebelumnya US\$274,33 juta.

Meski demikian, INCO tetap membagikan dividen sebesar 60% dari laba, dengan total dividen tunai US\$34,65 juta kepada pemegang saham. Menurut Chory, strategi ini bisa membatasi ruang ekspansi INCO ke depan.

Di sisi lain, Direktur PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk, Reza Priyambada, menilai beban bunga tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi MIND ID.

“Justru ini menjadi tantangan bagi MIND ID untuk dapat lebih meningkatkan kinerja agar bisa mengcover utang tersebut,” ujarnya.

Komitmen Investasi Jangka Panjang

Terlepas dari tekanan beban bunga dan performa laba yang menurun, INCO tetap menunjukkan komitmen kuat dalam mengembangkan bisnis jangka panjang. Total komitmen investasi perusahaan setelah perpanjangan kontrak mencapai sekitar US\$8,2 miliar.

Beberapa proyek strategis yang tengah dikerjakan INCO antara lain:

  • IGP Morowali bersama GEM dengan investasi sekitar US\$2 miliar, membangun smelter berkapasitas 60.000 ton MHP per tahun.
  • IGP Pomala dengan Zhejiang Huayou Cobalt Co dan Ford Motor Company senilai US\$4,5 miliar, ditargetkan rampung pada 2026.
  • IGP Sorowako Limonite bersama Huayou, senilai US\$1,7 miliar, ditargetkan menghasilkan 66.000 ton MHP per tahun.

Investasi besar ini diharapkan dapat menjadi mesin pertumbuhan baru INCO di tengah tantangan finansial akibat tekanan utang dan fluktuasi harga komoditas global.

Baca berita selengkapnya hanya di JurnalLugas.Com.

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait