JurnalLugas.Com — Pengusaha nasional yang dikenal dengan julukan Haji Isam melakukan langkah ekspansi signifikan dalam industri maritim. Diam-diam, ia mendatangkan empat unit kapal keruk dan delapan vessel dari dua negara maju dalam bidang perkapalan: Belanda dan Jepang. Langkah ini memperkuat posisi perusahaannya di sektor pelabuhan dan logistik laut.
Langkah akuisisi tersebut dilakukan melalui anak usahanya yang bergerak di bidang maritim dan pelabuhan. Delapan unit vessel yang dibeli terdiri dari berbagai tipe kapal pendukung kegiatan tambang dan logistik laut, sementara empat kapal keruk akan difokuskan untuk aktivitas pengerukan dan pendalaman alur laut di wilayah pelabuhan strategis yang dikelola grup usaha Haji Isam.
Pengadaan kapal ini diperkirakan menghabiskan dana ratusan miliar rupiah. Namun, nilai strategis dari pengadaan ini bukan semata dari sisi nominal, melainkan dari posisi tawar perusahaan nasional di tengah ketatnya persaingan sektor pelabuhan dan logistik di Indonesia.
Seorang sumber internal yang enggan disebutkan namanya menyebutkan bahwa pengadaan ini merupakan bagian dari rencana jangka panjang untuk mendirikan pelabuhan berskala internasional di wilayah Kalimantan Selatan. Pelabuhan tersebut nantinya akan melayani ekspor batubara, CPO, dan logistik industri dari kawasan Indonesia tengah.
“Kapal-kapal ini bukan hanya untuk operasional internal, tapi juga akan membuka layanan pihak ketiga. Ini strategi memperkuat ekosistem logistik maritim nasional,” ujarnya singkat, Rabu 23 Juli 2025.
Langkah Haji Isam ini dinilai cerdas oleh sejumlah pengamat karena dilakukan di saat banyak perusahaan masih menahan investasi akibat ketidakpastian ekonomi global. Sementara itu, pihak manajemen perusahaan masih enggan memberikan pernyataan resmi mengenai detail transaksi maupun rencana jangka panjang dari pembelian kapal tersebut.
Namun berdasarkan data pelayaran dan pengiriman internasional, beberapa kapal yang dibeli tercatat berasal dari galangan kapal di Yokohama, Jepang dan Rotterdam, Belanda. Kapal-kapal tersebut memiliki spesifikasi canggih yang mendukung efisiensi bahan bakar dan ramah lingkungan.
Pakar logistik menyebutkan bahwa keberadaan kapal keruk sangat vital untuk pengembangan pelabuhan-pelabuhan baru di Indonesia. Pasalnya, banyak pelabuhan di Indonesia masih memiliki alur pelayaran yang dangkal dan memerlukan pengerukan rutin. Dengan kepemilikan kapal sendiri, perusahaan tidak tergantung pada penyedia jasa pengerukan eksternal, yang umumnya berbiaya tinggi dan terbatas kapasitasnya.
“Indonesia memerlukan pelaku usaha yang berani investasi infrastruktur laut. Ini bentuk kontribusi swasta dalam mendukung konektivitas dan distribusi logistik nasional,” ujar seorang analis industri.
Langkah ekspansif ini juga sejalan dengan rencana pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis maritim. Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia memang tengah membangun pelabuhan-pelabuhan baru dan memperluas kapasitas pelabuhan eksisting guna mendukung visi sebagai poros maritim dunia.
Selain kapal keruk dan vessel, perusahaan milik Haji Isam juga disebut tengah menjajaki kerja sama dengan mitra pelayaran dari Singapura dan Malaysia. Kerja sama ini bertujuan untuk memperluas jaringan distribusi barang dan meningkatkan efisiensi logistik lintas negara, terutama di kawasan ASEAN.
Dengan pengadaan kapal-kapal ini, perusahaan dinilai siap menjadi pemain utama di sektor pelabuhan dan logistik laut, tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga regional. Apalagi lokasi pelabuhan yang dikelola berada di wilayah strategis yang dekat dengan jalur pelayaran internasional.
Ke depan, langkah investasi seperti ini berpotensi menciptakan efek domino positif, termasuk membuka lapangan kerja baru, meningkatkan daya saing produk ekspor, hingga menurunkan biaya logistik nasional yang selama ini masih tergolong tinggi dibanding negara tetangga.
Sementara itu, masyarakat sekitar pelabuhan yang dikelola perusahaan menyambut baik kabar kedatangan kapal-kapal baru ini. Mereka berharap akan ada peningkatan aktivitas ekonomi lokal dan kesempatan kerja yang lebih luas.
Langkah visioner Haji Isam menjadi contoh bagaimana pelaku usaha dalam negeri bisa menjadi pionir di sektor strategis. Di tengah tantangan ekonomi global dan persaingan yang ketat, investasi semacam ini menjadi angin segar bagi kemajuan industri maritim Indonesia.
Baca berita lainnya JurnalLugas.Com






